<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ldiimaluku&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://ldiimaluku.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ldiimaluku.wordpress.com</link>
	<description>Kontribusi Warga LDII Maluku dalam mengisi Pembangunan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Jan 2012 13:21:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ldiimaluku.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/695c17bb0ac922b7d29624deb09df7bb?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Ldiimaluku&#039;s Blog</title>
		<link>http://ldiimaluku.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ldiimaluku.wordpress.com/osd.xml" title="Ldiimaluku&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ldiimaluku.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menjadi Asing</title>
		<link>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/11/16/menjadi-asing/</link>
		<comments>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/11/16/menjadi-asing/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 02:35:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ldiimaluku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ldiimaluku.wordpress.com/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[Pantai Krueng Mane, 2028, dalam dimensi Iqbal Nak, ayah sengaja bawa kamu ke sini karena mau ngomong serius sama kamu. Sekarang kamu sudah baligh. Kamu relatif sudah bisa membedakan yang benar dan yang enggak. Tapi kamu masih terlalu muda buat kenal dunia secara luas, seluas laut dan langit di depan kamu itu. Nak, apa kamu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=246&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pantai Krueng Mane, 2028, dalam<br />
dimensi Iqbal</p>
<p>Nak, ayah sengaja bawa kamu ke<br />
sini karena mau ngomong serius sama kamu. Sekarang kamu sudah baligh. Kamu relatif<br />
sudah bisa membedakan yang benar dan yang enggak. Tapi kamu masih terlalu muda<br />
buat kenal dunia secara luas, seluas laut dan langit di depan kamu itu.</p>
<p>Nak, apa kamu pernah menerka<br />
kenapa ayah sangat membatasi kamu nonton TV, kenapa ayah sering potong kabel TV<br />
yang baru dibeli ibumu? Apa kamu tahu kenapa ayah sering ajak kamu menjauhi<br />
keramaian, kenapa ayah sering banting pemutar musik kamu? Kamu tahu, nak? Itu<br />
karena ayah sayang kamu dan gak mau kamu jadi orang-orang bentukan media<br />
mainstream yang gak islami.</p>
<p>Pada umumnya mereka itu bikin<br />
kamu tahu dalam ketidaktahuan. Kamu jadi tahu cara bikin orang ketawa, cara<br />
supaya dunia melihat kamu, cara berbahasa yang up to date, dan cara tetap ikut<br />
tren. Kamu jadi tahu si artis anu lagi bunting 7 bulan. Kamu dijejali dengan<br />
informasi-informasi gak penting, se-gak penting artis anu baru ngerayain ulang tahunnya<br />
di Food Court Pondok Indah Mal.</p>
<p>Tapi nak, kamu gak diajarin kamu<br />
harus gimana kalau kamu mimpi basah, apa yang harus kamu lakukan kalau mau<br />
nikah tapi belum siap. Kamu gak diajarin bahwa onani itu masuk dalam tujuh dosa<br />
besar. Kamu gak diajarin cara milih calon pasangan hidup yang benar, apa<br />
kriterianya.</p>
<p>Kamu jadi tahu batasan HAM tapi<br />
tidak hukum islam. Kamu jadi tahu cara ngitung PPn, tapi ngitung zakat kebun<br />
kamu sendiri aja bingung. Kamu jadi tahu di Bangladesh itu orang kebanjiran<br />
terus, tapi kamu malah gak tahu komplek sebelah kita juga kebanjiran. Siaran<br />
setengah jam pagi-pagi itu jelas kurang nak. Bahkan kamu sama sekali gak<br />
dibikin ngerti cara baca Quran. Bedain “fa” sama “qof” aja gak bisa, gimana mau<br />
paham, anakku?</p>
<p>Kamu nanti malah jadi bingung, di<br />
TV diajarin menikah sama anak di bawah umur itu bejat gak ketulungan, apa kamu<br />
mau bilang Nabi Muhammad yang menikahi Aisyah umur 6 tahun itu bejat? Di TV diajarin<br />
makan jilat tangan itu gak sopan, tapi di hadits kamu temui sunahnya itu malah jilat<br />
tangan. Di TV diajarin kalau ketemu orang itu salaman, padahal di hadits yang<br />
kamu pelajari, lebih baik kamu ditusuk besi panas daripada bersentuhan dengan<br />
bukan mahrom. Di TV disiarkan bahwa lesbi dan homo itu manusiawi dan sudah<br />
lazim, tapi di hadits, mereka itu layak dihukum mati.</p>
<p>Ayah paling takut kamu mengarah<br />
ke logika-logika praktis begitu. Ayah takut kamu menomorduakan Quran Hadits<br />
karena gak logis menurut kamu. Camkan ini nak, agama itu bukan dibangun dari<br />
logika, dan agama itu jauh dari kelogisan-kelogisan yang ada di novel Sophi’s<br />
World, walaupun dia jadi best seller internasional selama beberapa tahun. Nak, Al-Quran<br />
itu sudah jadi super best seller se-semesta selama belasan abad.</p>
<p>Kalau agama ini menuruti<br />
kelogisanmu, gak akan ada cerita 313 pasukan islam dengan perbekalan dan<br />
senjata yang jauh dari memadai bisa menang melawan 1.000 pasukan kafir dengan<br />
perbekalan dan senjata yang berlebihan waktu perang Badr. Gak akan ada cerita<br />
pasukan islam masih bertahan di perang Khandaq setelah dikepung dari segala<br />
penjuru. Gimana mungkin ada bantuan angin dalam perang di abad ketujuh?<br />
Nonsense! Itu semua gak akan masuk ke logikamu, nak.</p>
<p>Kamu akan wudhu dengan membasuh<br />
duburmu kalau kamu mau ikut logika, tapi bukan begitu yang diajarkan, nak. Kita<br />
gak tahu apa-apa. Keimanan itu bukan kelogikaan. Iman itu artinya percaya.<br />
Percaya bahwa aturan itu tepat walau gak masuk logika kamu.</p>
<p>Itu kenapa kamu harus mendalami<br />
Quran Hadits dengan mantap. Kamu tahu kan, bahwa ilmu yang wajib dicari itu ada<br />
tiga: ayat yang menghukumi, sunah yang ditegakkan, dan ilmu hukum waris. Intinya<br />
kamu wajib belajar Quran Hadits. Ilmu yang di luar itu statusnya cuma ilmu tambahan.<br />
Ayah sama sekali bukan melarang kamu sekolah sampai title kamu 10 biji, kalau<br />
ada. Sekolahlah tinggi-tinggi, cari ilmu sebanyak-banyaknya, itu positif.</p>
<p>Ayah cuma takut, kamu bisa<br />
menghitung bulan itu tepat ada di atas kepala kamu pada tanggal berapa jam<br />
berapa, tapi kamu kebingungan ngitung waris waktu ayahmu ini meninggal. Ayah<br />
takut kamu bisa fasih luar biasa berbahasa Inggris, tapi salam aja ngomongnya<br />
“semlekum”. Ayah gak mau kamu hapal irregular verb dan certain adjective, tapi<br />
gak hapal siapa saja mahrom kamu.</p>
<p>Ayah gak mau kamu bisa bedain<br />
processor bagus dan enggak, bisa bedain awan cumulus dan nimbus, bisa bedain membran<br />
sel dan membran mitokondria, tapi kamu gak bisa bedain halal-haram dan<br />
suci-najis. Dan hal-hal semacam itu. Ayah takut kamu kuasai dunia tapi gak ngerti<br />
hukum islam, nak.</p>
<p>Ayah gak kebayang, pascatiada<br />
nanti kamu jawab apa waktu ditanya, “Kenapa dulu kamu lebaran duluan dibanding<br />
tetanggamu?” Apa kamu bakal jawab, “Abis di tanggalan lebarannya tanggal<br />
segitu, saya kan gak tahu aturan sebenarnya gimana.” Terus ditanya lagi,<br />
“Lantas, kenapa kamu tidak cari tahu ilmunya?” Apa kamu berani jawab begini,<br />
“Saya kan mau sekolah sampai S3, mau punya rumah besar, mau jadi anggota dewan,<br />
target saya banyak, jadi belum sempat mendalami islam.” Berani?</p>
<p>Al ‘ilmu qobla ‘amal, nak. Beramal<br />
setelah kamu punya ilmunya, jangan sembarangan ikut-ikutan. Orang tahlilan kamu<br />
ikut tahlilan. Orang pacaran kamu ikut pacaran. Aduuuh, nak. Jangan. Jangan<br />
jadi orang yang “qila wa qola”, masih gak jelas dasarnya, eh malah disampaikan.<br />
Jangan katanya katanya. Kamu harus tahu betul apa dalilnya, hukumnya gimana, baru<br />
bisa melakukan atau menanggapi sesuatu. Kamu tahu kan, qila wa qola itu<br />
termasuk satu dari tiga hal yang dibenci Allah? Coba buka lagi kitab Muslim<br />
kamu.</p>
<p>Dalamilah ilmu agama, nak. Malaikat<br />
akan membentangkan sayap-sayapnya karena senang padamu yang sedang mencari ilmu.<br />
Sampai ikan-ikan di lautan, semua mendoakanmu, nak. Kalau kamu jadi pengajar<br />
dan pengamal Al-Quran, ayah bakal dapat mahkota emas yang terangnya lebih dari<br />
matahari. Itu jauh lebih membanggakan dari ayah dipanggil mau diberi<br />
penghargaan karena kamu meraih nobel. Ayah dapat mahkota, kamu tentu dapat<br />
lebih dari itu, nak.</p>
<p>Setelah ilmumu kuat, aplikasikan,<br />
sebarkan, dan perjuangkanlah semaksimal yang kamu bisa, nak. Jangan takut<br />
cacian orang. Jangan menyerah walau sedunia ini memusuhi kamu. Gigit agamamu<br />
dengan gigi geraham. Lebih baik kamu hidup dengan ngangon kambing di Gunung Leuser<br />
sana ditemani 200 harimau sumatera daripada kamu hidup makan enak dan mudah<br />
tapi gak bisa aplikasikan agamamu.</p>
<p>Nak, dari dulu orang hebat itu<br />
selalu dianggap asing di zamannya. Itu bukan berarti kamu harus menjadi asing,<br />
nak, bukan. Tapi, risiko kamu “diasingkan” masyarakat itu besar kalau kamu bawa<br />
nilai-nilai baru, atau nilai-nilai lama yang dianggap baru.</p>
<p>Anak muda seperti kamu punya<br />
tenaga dan semangat yang jauh lebih besar daripada orang tua kayak ayah begini.<br />
Ibnu Umar, pada usia 13 tahun ingin ikut dalam Perang Badr, tapi dilarang, nak,<br />
karena masih terlalu muda. Ia akhirnya ikut dalam perang Khandaq pada umur 15<br />
tahun. Sejak belia, beliau senang mencari ilmu, nak. Beliau menjadi periwayat<br />
hadits kedua terbanyak setelah Abu Hurairoh.</p>
<p>Kamu tentu sering dengar Ali bin<br />
Abi Thalib, anakku. Beliau sudah menjadi bintang lapangan pada Perang Badr,<br />
saat usianya masih sekitar 25 tahun. Beliau menjadi pimpinan pasukan Perang<br />
Khaibar, beberapa tahun kemudian, yang akhirnya menang gemilang. Beliau yang<br />
membunuh Marhab, panglima besar Yahudi. Semua dalam usia belia, anakku.</p>
<p>Imam Bukhori yang menyusun hadits<br />
tershahih sampai sekarang, beliau mulai berkelana pada umur 16 tahun. Jiwa muda<br />
yang tetap teguh belasan tahun menghimpun hadits-hadits shahih. Kamu tahu apa<br />
yang terjadi pada Imam Bukhori, anakku? Beliau diusir dari kampung dan menjadi<br />
musuh banyak orang pada zaman itu. Tapi itu tidak membuatnya gentar.</p>
<p>Selanjutnya giliran kamu yang<br />
meneruskan perjuangan. Selamat berjuang nak, luruskan niat, ayah doakan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ldiimaluku.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ldiimaluku.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ldiimaluku.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ldiimaluku.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ldiimaluku.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ldiimaluku.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ldiimaluku.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ldiimaluku.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ldiimaluku.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ldiimaluku.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ldiimaluku.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ldiimaluku.wordpress.com/246/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ldiimaluku.wordpress.com/246/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ldiimaluku.wordpress.com/246/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=246&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/11/16/menjadi-asing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4349c10a23ee2b11f5aff1e0de8baff2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ldiimaluku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>سبحان الله</title>
		<link>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/09/09/%d8%b3%d8%a8%d8%ad%d8%a7%d9%86-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87/</link>
		<comments>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/09/09/%d8%b3%d8%a8%d8%ad%d8%a7%d9%86-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2011 01:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ldiimaluku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/09/09/%d8%b3%d8%a8%d8%ad%d8%a7%d9%86-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87/</guid>
		<description><![CDATA[oleh: KH. Shobirun Ahkam المعهد الإسلامى موليا ابدي Togog berdialog “Kau telah mengikuti Jamaah-Sumber bid’ah. Dan tokohmu Nurhasan Ubaidah pernah mencuri di Makkah!.” Saat kujawab “Manakah saksi dari itu fitnah?,”; dia justru marah. Sayang sekali jika rajin mengaji namun tindakannya kurang wira’i. Tak tahukah bahwa orang-orang yang senang menyiarkan berita jelek di kalangan orang-orang iman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=245&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: KH. Shobirun Ahkam<br />
<blockquote>
<h3><a href="http://www.mulungan.org/">المعهد الإسلامى موليا ابدي</a></h3>
<p>Togog berdialog “Kau telah mengikuti Jamaah-Sumber bid’ah. Dan tokohmu Nurhasan Ubaidah pernah mencuri di Makkah!.” <br />Saat kujawab “Manakah saksi dari itu fitnah?,”; dia justru marah. <br />Sayang sekali jika rajin mengaji namun tindakannya kurang wira’i. Tak tahukah bahwa orang-orang yang senang menyiarkan berita jelek di kalangan orang-orang iman akan diadzab Allah?[1]. <br />Dulu ‘Aisyah istri Rasulillah juga pernah difitnah Abdillah. Di saat fitnah telah tersebar di kalangan para sahabah[2]; mereka resah dan susah, apa lagi ‘A’isyah dan Rasulillah. <br />Sekitar dua malam air-mata ‘A’isyah tumpah[3]. Abu Bakr dan istrinya menyangka hati ‘A’isyah pecah. Firman Tuhan diturunkan di saat kesusahan ‘A’isyah melambung ke puncak. Mungkin saat itu para syaitan sedang tertawa ngakak.<br />
<hr size="1">
<p>[1] Allah berfirman:<br />إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ – Sesungguhnya orang-orang yang senang jika berita-jelek tersiar di kalangan orang-orang iman mendapatkan siksa yang sangat pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah tahu; sedangkan kalian tidak tahu.
<p>[2] Maksudnya sahabat Nabi.
<p>[3] Bukhari meriwayatkan:<br />زَعَمُوا أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; إِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ أَزْوَاجِهِ ، فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَهُ ، فَأَقْرَعَ بَيْنَنَا فِى غَزَاةٍ غَزَاهَا فَخَرَجَ سَهْمِى ، فَخَرَجْتُ مَعَهُ بَعْدَ مَا أُنْزِلَ الْحِجَابُ ، فَأَنَا أُحْمَلُ فِى هَوْدَجٍ وَأُنْزَلُ فِيهِ ، فَسِرْنَا حَتَّى إِذَا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; مِنْ غَزْوَتِهِ تِلْكَ ، وَقَفَلَ وَدَنَوْنَا مِنَ الْمَدِينَةِ ، آذَنَ لَيْلَةً بِالرَّحِيلِ ، فَقُمْتُ حِينَ آذَنُوا بِالرَّحِيلِ ، فَمَشَيْتُ حَتَّى جَاوَزْتُ الْجَيْشَ ، فَلَمَّا قَضَيْتُ شَأْنِى أَقْبَلْتُ إِلَى الرَّحْلِ ، فَلَمَسْتُ صَدْرِى ، فَإِذَا عِقْدٌ لِى مِنْ جَزْعِ أَظْفَارٍ قَدِ انْقَطَعَ ، فَرَجَعْتُ فَالْتَمَسْتُ عِقْدِى ، فَحَبَسَنِى ابْتِغَاؤُهُ ، فَأَقْبَلَ الَّذِينَ يَرْحَلُونَ لِى ، فَاحْتَمَلُوا هَوْدَجِى فَرَحَلُوهُ عَلَى بَعِيرِى الَّذِى كُنْتُ أَرْكَبُ ، وَهُمْ يَحْسِبُونَ أَنِّى فِيهِ ، وَكَانَ النِّسَاءُ إِذْ ذَاكَ خِفَافًا لَمْ يَثْقُلْنَ وَلَمْ يَغْشَهُنَّ اللَّحْمُ ، وَإِنَّمَا يَأْكُلْنَ الْعُلْقَةَ مِنَ الطَّعَامِ ، فَلَمْ يَسْتَنْكِرِ الْقَوْمُ حِينَ رَفَعُوهُ ثِقَلَ الْهَوْدَجِ فَاحْتَمَلُوهُ وَكُنْتُ جَارِيَةً حَدِيثَةَ السِّنِّ ، فَبَعَثُوا الْجَمَلَ وَسَارُوا ، فَوَجَدْتُ عِقْدِى بَعْدَ مَا اسْتَمَرَّ الْجَيْشُ ، فَجِئْتُ مَنْزِلَهُمْ وَلَيْسَ فِيهِ أَحَدٌ ، فَأَمَمْتُ مَنْزِلِى الَّذِى كُنْتُ بِهِ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ سَيَفْقِدُونِى فَيَرْجِعُونَ إِلَىَّ ، فَبَيْنَا أَنَا جَالِسَةٌ غَلَبَتْنِى عَيْنَاىَ فَنِمْتُ ، وَكَانَ صَفْوَانُ بْنُ الْمُعَطَّلِ السُّلَمِىُّ ثُمَّ الذَّكْوَانِىُّ مِنْ وَرَاءِ الْجَيْشِ ، فَأَصْبَحَ عِنْدَ مَنْزِلِى فَرَأَى سَوَادَ إِنْسَانٍ نَائِمٍ فَأَتَانِى ، وَكَانَ يَرَانِى قَبْلَ الْحِجَابِ فَاسْتَيْقَظْتُ بِاسْتِرْجَاعِهِ حِينَ أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ ، فَوَطِئَ يَدَهَا فَرَكِبْتُهَا فَانْطَلَقَ يَقُودُ بِى الرَّاحِلَةَ ، حَتَّى أَتَيْنَا الْجَيْشَ بَعْدَ مَا نَزَلُوا مُعَرِّسِينَ فِى نَحْرِ الظَّهِيرَةِ ، فَهَلَكَ مَنْ هَلَكَ ، وَكَانَ الَّذِى تَوَلَّى الإِفْكَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَىٍّ ابْنُ سَلُولَ ، فَقَدِمْنَا الْمَدِينَةَ فَاشْتَكَيْتُ بِهَا شَهْرًا ، يُفِيضُونَ مِنْ قَوْلِ أَصْحَابِ الإِفْكِ ، وَيَرِيبُنِى فِى وَجَعِى أَنِّى لاَ أَرَى مِنَ النَّبِىِّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; اللُّطْفَ الَّذِى كُنْتُ أَرَى مِنْهُ حِينَ أَمْرَضُ ، إِنَّمَا يَدْخُلُ فَيُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُولُ « كَيْفَ تِيكُمْ » . لاَ أَشْعُرُ بِشَىْءٍ مِنْ ذَلِكَ حَتَّى نَقَهْتُ ، فَخَرَجْتُ أَنَا وَأُمُّ مِسْطَحٍ قِبَلَ الْمَنَاصِعِ مُتَبَرَّزُنَا ، لاَ نَخْرُجُ إِلاَّ لَيْلاً إِلَى لَيْلٍ ، وَذَلِكَ قَبْلَ أَنْ نَتَّخِذَ الْكُنُفَ قَرِيبًا مِنْ بُيُوتِنَا ، وَأَمْرُنَا أَمْرُ الْعَرَبِ الأُوَلِ فِى الْبَرِّيَّةِ أَوْ فِى التَّنَزُّهِ ، فَأَقْبَلْتُ أَنَا وَأُمُّ مِسْطَحٍ بِنْتُ أَبِى رُهْمٍ نَمْشِى ، فَعَثُرَتْ فِى مِرْطِهَا فَقَالَتْ تَعِسَ مِسْطَحٌ ، فَقُلْتُ لَهَا بِئْسَ مَا قُلْتِ ، أَتَسُبِّينَ رَجُلاً شَهِدَ بَدْرًا فَقَالَتْ يَا هَنْتَاهْ أَلَمْ تَسْمَعِى مَا قَالُوا فَأَخْبَرَتْنِى بِقَوْلِ أَهْلِ الإِفْكِ ، فَازْدَدْتُ مَرَضًا إِلَى مَرَضِى ، فَلَمَّا رَجَعْتُ إِلَى بَيْتِى دَخَلَ عَلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; فَسَلَّمَ فَقَالَ « كَيْفَ تِيكُمْ » . فَقُلْتُ ائْذَنْ لِى إِلَى أَبَوَىَّ . قَالَتْ وَأَنَا حِينَئِذٍ أُرِيدُ أَنْ أَسْتَيْقِنَ الْخَبَرَ مِنْ قِبَلِهِمَا ، فَأَذِنَ لِى رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; فَأَتَيْتُ أَبَوَىَّ فَقُلْتُ لأُمِّى مَا يَتَحَدَّثُ بِهِ النَّاسُ فَقَالَتْ يَا بُنَيَّةُ هَوِّنِى عَلَى نَفْسِكِ الشَّأْنَ ، فَوَاللَّهِ لَقَلَّمَا كَانَتِ امْرَأَةٌ قَطُّ وَضِيئَةٌ عِنْدَ رَجُلٍ يُحِبُّهَا وَلَهَا ضَرَائِرُ إِلاَّ أَكْثَرْنَ عَلَيْهَا . فَقُلْتُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَلَقَدْ يَتَحَدَّثُ النَّاسُ بِهَذَا قَالَتْ فَبِتُّ تِلْكَ اللَّيْلَةَ حَتَّى أَصْبَحْتُ لاَ يَرْقَأُ لِى دَمْعٌ وَلاَ أَكْتَحِلُ بِنَوْمٍ ، ثُمَّ أَصْبَحْتُ فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; عَلِىَّ بْنَ أَبِى طَالِبٍ وَأُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ حِينَ اسْتَلْبَثَ الْوَحْىُ ، يَسْتَشِيرُهُمَا فِى فِرَاقِ أَهْلِهِ ، فَأَمَّا أُسَامَةُ فَأَشَارَ عَلَيْهِ بِالَّذِى يَعْلَمُ فِى نَفْسِهِ مِنَ الْوُدِّ لَهُمْ ، فَقَالَ أُسَامَةُ أَهْلُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ نَعْلَمُ وَاللَّهِ إِلاَّ خَيْرًا ، وَأَمَّا عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ يُضَيِّقِ اللَّهُ عَلَيْكَ وَالنِّسَاءُ سِوَاهَا كَثِيرٌ ، وَسَلِ الْجَارِيَةَ تَصْدُقْكَ . فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; بَرِيرَةَ فَقَالَ « يَا بَرِيرَةُ هَلْ رَأَيْتِ فِيهَا شَيْئًا يَرِيبُكِ » . فَقَالَتْ بَرِيرَةُ لاَ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ ، إِنْ رَأَيْتُ مِنْهَا أَمْرًا أَغْمِصُهُ عَلَيْهَا أَكْثَرَ مِنْ أَنَّهَا جَارِيَةٌ حَدِيثَةُ السِّنِّ تَنَامُ عَنِ الْعَجِينَ فَتَأْتِى الدَّاجِنُ فَتَأْكُلُهُ . فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; مِنْ يَوْمِهِ ، فَاسْتَعْذَرَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُبَىٍّ ابْنِ سَلُولَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; « مَنْ يَعْذِرُنِى مِنْ رَجُلٍ بَلَغَنِى أَذَاهُ فِى أَهْلِى ، فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِى إِلاَّ خَيْرًا ، وَقَدْ ذَكَرُوا رَجُلاً مَا عَلِمْتُ عَلَيْهِ إِلاَّ خَيْرًا ، وَمَا كَانَ يَدْخُلُ عَلَى أَهْلِى إِلاَّ مَعِى » . فَقَامَ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا وَاللَّهِ أَعْذِرُكَ مِنْهُ ، إِنْ كَانَ مِنَ الأَوْسِ ضَرَبْنَا عُنُقَهُ ، وَإِنْ كَانَ مِنْ إِخْوَانِنَا مِنَ الْخَزْرَجِ أَمَرْتَنَا فَفَعَلْنَا فِيهِ أَمْرَكَ . فَقَامَ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ وَهُوَ سَيِّدُ الْخَزْرَجِ ، وَكَانَ قَبْلَ ذَلِكَ رَجُلاً صَالِحًا وَلَكِنِ احْتَمَلَتْهُ الْحَمِيَّةُ فَقَالَ كَذَبْتَ لَعَمْرُ اللَّهِ ، لاَ تَقْتُلُهُ وَلاَ تَقْدِرُ عَلَى ذَلِكَ ، فَقَامَ أُسَيْدُ بْنُ الْحُضَيْرِ فَقَالَ كَذَبْتَ لَعَمْرُ اللَّهِ ، وَاللَّهِ لَنَقْتُلَنَّهُ ، فَإِنَّكَ مُنَافِقٌ تُجَادِلُ عَنِ الْمُنَافِقِينَ . فَثَارَ الْحَيَّانِ الأَوْسُ وَالْخَزْرَجُ حَتَّى هَمُّوا ، وَرَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; عَلَى الْمِنْبَرِ فَنَزَلَ فَخَفَّضَهُمْ حَتَّى سَكَتُوا وَسَكَتَ ، وَبَكَيْتُ يَوْمِى لاَ يَرْقَأُ لِى دَمْعٌ وَلاَ أَكْتَحِلُ بِنَوْمٍ ، فَأَصْبَحَ عِنْدِى أَبَوَاىَ ، قَدْ بَكَيْتُ لَيْلَتَيْنِ وَيَوْمًا حَتَّى أَظُنُّ أَنَّ الْبُكَاءَ فَالِقٌ كَبِدِى &#8211; قَالَتْ &#8211; فَبَيْنَا هُمَا جَالِسَانِ عِنْدِى وَأَنَا أَبْكِى إِذِ اسْتَأْذَنَتِ امْرَأَةٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَأَذِنْتُ لَهَا ، فَجَلَسَتْ تَبْكِى مَعِى ، فَبَيْنَا نَحْنُ كَذَلِكَ إِذْ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; فَجَلَسَ ، وَلَمْ يَجْلِسْ عِنْدِى مِنْ يَوْمِ قِيلَ فِىَّ مَا قِيلَ قَبْلَهَا ، وَقَدْ مَكُثَ شَهْرًا لاَ يُوحَى إِلَيْهِ فِى شَأْنِى شَىْءٌ &#8211; قَالَتْ &#8211; فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ « يَا عَائِشَةُ فَإِنَّهُ بَلَغَنِى عَنْكِ كَذَا وَكَذَا ، فَإِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً فَسَيُبَرِّئُكِ اللَّهُ ، وَإِنْ كُنْتِ أَلْمَمْتِ فَاسْتَغْفِرِى اللَّهَ وَتُوبِى إِلَيْهِ ، فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ » . فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; مَقَالَتَهُ قَلَصَ دَمْعِى حَتَّى مَا أُحِسُّ مِنْهُ قَطْرَةً وَقُلْتُ لأَبِى أَجِبْ عَنِّى رَسُولَ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; . قَالَ وَاللَّهِ مَا أَدْرِى مَا أَقُولُ لِرَسُولِ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; . فَقُلْتُ لأُمِّى أَجِيبِى عَنِّى رَسُولَ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; فِيمَا قَالَ . قَالَتْ وَاللَّهِ مَا أَدْرِى مَا أَقُولُ لِرَسُولِ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; . قَالَتْ وَأَنَا جَارِيَةٌ حَدِيثَةُ السِّنِّ لاَ أَقْرَأُ كَثِيرًا مِنَ الْقُرْآنِ فَقُلْتُ إِنِّى وَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُ أَنَّكُمْ سَمِعْتُمْ مَا يَتَحَدَّثُ بِهِ النَّاسُ ، وَوَقَرَ فِى أَنْفُسِكُمْ وَصَدَّقْتُمْ بِهِ ، وَلَئِنْ قُلْتُ لَكُمْ إِنِّى بَرِيئَةٌ . وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنِّى لَبَرِيئَةٌ لاَ تُصَدِّقُونِى بِذَلِكَ ، وَلَئِنِ اعْتَرَفْتُ لَكُمْ بِأَمْرٍ ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَنِّى بَرِيئَةٌ لَتُصَدِّقُنِّى وَاللَّهِ مَا أَجِدُ لِى وَلَكُمْ مَثَلاً إِلاَّ أَبَا يُوسُفَ إِذْ قَالَ ( فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ ) ثُمَّ تَحَوَّلْتُ عَلَى فِرَاشِى ، وَأَنَا أَرْجُو أَنْ يُبَرِّئَنِى اللَّهُ ، وَلَكِنْ وَاللَّهِ مَا ظَنَنْتُ أَنْ يُنْزِلَ فِى شَأْنِى وَحْيًا ، وَلأَنَا أَحْقَرُ فِى نَفْسِى مِنْ أَنْ يُتَكَلَّمَ بِالْقُرْآنِ فِى أَمْرِى ، وَلَكِنِّى كُنْتُ أَرْجُو أَنْ يَرَى رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; فِى النَّوْمِ رُؤْيَا يُبَرِّئُنِى اللَّهُ ، فَوَاللَّهِ مَا رَامَ مَجْلِسَهُ وَلاَ خَرَجَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ حَتَّى أُنْزِلَ عَلَيْهِ ، فَأَخَذَهُ مَا كَانَ يَأْخُذُهُ مِنَ الْبُرَحَاءِ ، حَتَّى إِنَّهُ لَيَتَحَدَّرُ مِنْهُ مِثْلُ الْجُمَانِ مِنَ الْعَرَقِ فِى يَوْمٍ شَاتٍ ، فَلَمَّا سُرِّىَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; وَهُوَ يَضْحَكُ ، فَكَانَ أَوَّلَ كَلِمَةٍ تَكَلَّمَ بِهَا أَنْ قَالَ لِى « يَا عَائِشَةُ ، احْمَدِى اللَّهَ فَقَدْ بَرَّأَكِ اللَّهُ » . فَقَالَتْ لِى أُمِّى قُومِى إِلَى رَسُولِ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; . فَقُلْتُ لاَ وَاللَّهِ ، لاَ أَقُومُ إِلَيْهِ ، وَلاَ أَحْمَدُ إِلاَّ اللَّهَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى ( إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ) الآيَاتِ ، فَلَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ هَذَا فِى بَرَاءَتِى قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ &#8211; رضى الله عنه &#8211; وَكَانَ يُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحِ بْنِ أُثَاثَةَ لِقَرَابَتِهِ مِنْهُ وَاللَّهِ لاَ أُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحٍ شَيْئًا أَبَدًا بَعْدَ مَا قَالَ لِعَائِشَةَ . فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى ( وَلاَ يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ ) إِلَى قَوْلِهِ ( غَفُورٌ رَحِيمٌ ) فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ بَلَى ، وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِى ، فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحٍ الَّذِى كَانَ يُجْرِى عَلَيْهِ . وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يَسْأَلُ زَيْنَبَ بِنْتَ جَحْشٍ عَنْ أَمْرِى ، فَقَالَ « يَا زَيْنَبُ ، مَا عَلِمْتِ مَا رَأَيْتِ » . فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَحْمِى سَمْعِى وَبَصَرِى ، وَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَيْهَا إِلاَّ خَيْرًا ، قَالَتْ وَهْىَ الَّتِى كَانَتْ تُسَامِينِى ، فَعَصَمَهَا اللَّهُ بِالْوَرَعِ – <br />Mereka meyakini bahwa ‘Aisyah pernah berkata “Konon apabila Rasulallah saw menghendaki keluar untuk musafir, mengundi istri-istrinya. Mana di antara mereka yang keluar undiannya berarti berhak keluar menemaninya. Beliau pernah mengundiku pada suatu peperangan yang dia lakukan. Ternyata yang muncul undianku. Saya pun keluar untuk menemaninya, saat itu ayat Hijab telah diturunkan. Saya dibawa di dalam tandu, kalau saya turunpun diturunkan bersama tandunya. Perjalanan tersebut memakan waktu lumayan lama. <br />Ketika Rasulullah saw telah menyelesaikan perang dan telah pulang: saat itu kami istirahat di dekat Madinah; di suatu malam Rasulullah saw mengumumkan bahwa perjalanan pulang akan dilanjutkan. Ketika orang-orang bersiap-siap akan pulang; saya berdiri untuk melewati kumpulan-pasukan. Ketika saya telah menyelesaikan keperluanku, saya segera mendatangi kendaraanku. Ketika saya meraba dadaku ternyata kalungku made in Jaz’i-Adzfar telah putus. Saya kembali lagi untuk mencari kalungku, pencarian tersebut membuatku tertahan lumayan lama. Orang-orang yang bertugas membawaku berdatangan untuk menaikkan tanduku. Mereka telah menaikkannya di atas unta yang tadinya kukendarai. <br />Mereka menyangka saya telah berada di dalamnya. Memang konon wanita saat itu ringan, tidak memberatkan orang yang membawa, bisa dikatakan tidak ada daging yang membungkus mereka karena yang mereka makan benar-benar hanya sesuap makanan. Otomatis ketika mereka mengangkat tandu ringan tersebut tidak ada yang pangling. <br />Konon saat itu saya masih anak muda. Akhirnya petugas-petugas tersebut membangkitkan unta kendaraanku dan berangkat. Saya berhasil menemukan kalungku justru setelah pasukan berangkat. Saya telah bergerak cepat menuju tempat mereka, namun tak seorang pun kujumpai di sana. Saya segera datang ke tempatku semula karena menduga mereka akan kehilangan diriku selanjutnya akan kembali padaku. Di waktu saya lama menunggu ternyata saya tertidur. <br />Konon saat itu Shafwan bin Al-Mu’atthal As-Sulami berada di belakang pasukan. Di pagi buta dia berada di sisi tempatku, setelah dia melihatku sebagai hitamnya orang tidur dia mendatangiku. Memang sebelum Ayat Hijab diturunkan dia pernah melihatku. Saya sendiri terbangun karena istirja’nya di saat dia mendekamkan untanya. Dia menginjak tangan untanya; saya segera menaiki untanya; selanjutnya dia menuntun untanya yang akhirnya membawaku. Akhirnya kami bisa bergabung lagi pada pasukan di saat mereka beristirahat di pertengahan waktu dhohor. <br />Waktu itulah rusaknya orang yang telah rusak, (yakni mulai menyebarkan fitnah). Orang yang menangani Ifki (kebohongan atau fitnah) tersebut Abdullah bin Ubai bin Salul. Setelah saya sampai Madinah jatuh sakit selama sebulan. Selama itu orang-orang tengelam dalam berita Ifki atau fitnah tersebut. Yang membuatku ragu atau pangling ialah sewaktu saya sakit tak kurasakan lagi kelembutan dari Nabi yang sebelumnya pernah kurasakan. Sungguh yang dia lakukan hanya masuk rumah lalu bersabda ‘bagaimana dia?’. Keraguan tersebut mengganguku cukup lama hingga akhirnya saya hampir sembuh. Saat itu saya keluar-rumah beserta Ummu Misthach menuju kebun sebagai tempat buang air-besar-dan-kecil. <br />Mengenai hal itu kami masih melakukan kelakuan orang Arab kuno. Saya dan Ummu Misthach berjalan menuju tempat, tiba-tiba kaki dia terjerat ikat pinggangnya. Dia mengumpat ‘rugi Misthach’. Saya mengingatkan ‘ini sejelek-jeleknya yang kau ucapkan. Kenapa kau berani mengumpat lelaki veteran Perang Badar?’. Dia berkata ‘oh hantah’, dalam bahasa jawa nduk atau nak atau ngger. ‘Apa kau belum mendengar yang telah mereka katakan?’. Akhirnya dia menjelaskan padaku tentang ucapan ahlul-ifki atau tukang fitnah tersebut. <br />Sontak sakitku makin bertambah, ketika saya telah masuk ke rumah; Rasulullah saw masuk untuk mengucapkan salam lalu bertanya ‘bagaimana dia?’. Saya berkata ‘ijinkan saya pulang ke rumah dua orang tuaku’. Sebetulnya saat itu saya hanya akan minta penjelasan yang akurat dari mereka berdua. Beruntung sekali Rasulullah saw memberiku ijin. Setelah saya sampai kerumah dua orang tuaku saya bertanya pada ibuku ‘apakah yang dibicarakan oleh orang-orang?’. Dia menjawab ‘hai anakku sayang, anggaplah remeh urusan yang berhubungan dengan dirimu tersebut!. Demi Allah jarang sekali wanita cantik disanding pria yang mencintainya, kecuali pasti saingan-saingannya berulah banyak padanya’. <br />Saya berkata ‘Subhanallah, ternyata selama ini orang-orang membicarakan mengenai hal ini dengan serius’. ‘A’isyah meneruskan ceritanya ‘malam itu air-mataku bercucuran tak berhenti: menangis terus hingga pagi, tak sempat lagi mengenakan celak untuk tidur. Selanjutnya saya memasuki waktu pagi; saat Rasulullah saw terlambat mendapatkan wahyu, memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk minta masukan mengenai mencerai atau tidaknya pada istrinya.
<ul>
<li>Adapun Usamah menyatakan bahwa dirinya salut terhadap istri Nabi.’ Dia berkata ‘ya Rasulallah, setahuku demi Allah istri tuan tiada lain kecuali baik’.
<li>Adapun Ali bin Abi Thalib berkata ‘ya Rasulallah, Allah mutlak takkan menyia-nyiakan tuan, perempuan selain dia banyak. Bertanyalah pada jariyyah’, yakni pelayan ‘A’isyah. ‘Dia akan menjawab dengan jujur’ kata Ali.</li>
</ul>
<p>Akhirnya Rasulallah saw memanggil Barirah yang disebut jariyyah oleh Ali. ‘Ya Barirah apakah kau pernah menyaksikan sesuatu yang membuatmu ragu-ragu terhadapnya?’. Dia menjawab dengan tegas ‘tidak, demi yang telah mengutus tuan dengan hak, saya belum pernah menyaksikan perkara yang lebih kuanggap serus mengenai dia dari pada dia yang sungguh masih muda, pernah meninggalkan adonan rotinya, akhirnya adonannya didatangi dan dimakan kambing jinak’. <br />Pada sebagian waktu dari hari itu Rasulullah saw berdiri untuk minta masukan mengenai Abdullah bin Ubai bin Salul. Dia bersabda ‘siapakah yang memberiku masukan mengenai lelaki yang fitnahnya mengenai istriku akhirnya sampai padaku?. Demi Allah setahuku istriku adalah baik. Mereka juga memfitnah lelaki yang setahuku baik. Dia belum pernah masuk rumah istriku kecuali bersamaku’. <br />Tak lama kemudian Sa’d bin Mu’adz berdiri untuk berkata ‘ya Rasulallah, demi Allah saya memihak tuan mengenai dia. Kalau dia berasal dari keluarga Aus kami pasti telah memukul lehernya; kalaupun dia berasal dari saudara keluarga kami yaitu Khazraj, lalu tuan perintah kami, pasti kami juga melaksanakannya’. <br />Sontak Sa’d bin Ubadah berdiri, dialah Sayyid, yakni tokoh terbesar keluarga Khazraj. Yang sudah-sudah sebelum itu dia lelaki shalih, tetapi saat itu dia terbawa emosi, sehingga yang muncul ‘kamu telah bohong demi umur Allah!, kamu takkan membunuh dan takkan mampu membunuhnya!’. <br />Usaid bin Chudhair berkata ’demi Allah kami benar-benar akan membunuh orang itu. Kau orang munafiq yang membela orang-orang munafiq’. Ternyata perdebatan tersebut berdampak dua keluarga besar bersitegang hingga mereka sama berdiri. Rasulullah yang berdiri di atas mimbar pun turun untuk melerai mereka hingga mereka dan Nabi diam. <br />‘Sehari saya menangis terus hingga air mataku tumpah tak berhenti, tak sempat lagi mengenakan celak untuk tidur. Pagi itu dua orang tuaku berada di sisiku, tangisanku telah sehari dua malam belum juga berhenti, hingga saya menyangka akan memecahkan hatiku. Di saat mereka berdua duduk di sisiku; seorang wanita Anshar minta ijin akan masuk ke rumah. Saya memberi ijin agar dia masuk. Dia duduk dan menangis bersamaku. <br />Di saat keadaan kami demikian itu; tiba-tiba Rasulullah saw masuk kerumah untuk duduk. Sejak fitnah itu hangat dibicarakan, Rasulullah belum pernah duduk di sisiku. Padahal selama sebulan tak sedikitpun wahyu mengenai diriku turun. Tak lama setelah Rasulullah saw membaca tasyahud lalu bersabda ‘ya ‘A’isyah sungguh berita tentang begini-begini mengenai dirimu telah sampai padaku, jika ternyata kau tak melakukannya maka Allah akan membebaskanmu; namun jika kau telah melakukan maka istighfar dan bertaubatlah pada Allah, karena sungguh ketika seorang hamba telah mengakui dosa lalu bertaubat, maka Allah pun menerima taubatnya. Ketika Rasulullah saw telah menyelesaikan sabdanya; air mataku berhenti mengalir, kurasakan tak setetespun air-mataku keluar lagi. <br />Saya berkata pada ayahku ‘jawabkan saya pada Rasulallah’. Dia berkata ‘demi Allah saya tidak tahu apa yang harus kukatakan pada Rasullah’. Saya berkata pada ibuku ‘jawablah untukku pada Rasulallah mengeni yang disabdakan’. Ibuku menjawab ‘demi Allah saya tak tahu apa yang kujawabkan untuk Rasulallah’. Saat itu saya masih bocah yang berumur muda, bacan Al-Qur’an yang kukuasai (maksudnya yang dihafalkan) belum banyak. <br />Saya berkata ‘demi Allah sungguh saya benar-benar telah tahu bahwa kalian telah mendengar berita yang disebar-luaskan orang-orang. Berita tersebut telah bersemayam di dalam hati kalian; kalian juga telah membenarkannya. Niscaya jika saya mengatakan pada kalian bahwa sungguh saya tak melakukannya; sementara Allah sendiri tahu bahwa memang saya tak melakukannya; pasti kalian tak mempercayaiku. <br />Namun kalau saya mengakui perbuatan yang sungguh Allah sendiri tahu bahwa saya tidak melakuknnya, pasti kalian justru mempercayaiku. Demi Allah saya tidak menemukan gambaran tentang diriku dan diri kalian kecuali bagaikan ayah Nabi Yusuf ketika berkata ‘فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ – Maka bersabar yang sangat baik; sementara Allah yang dimintai tolong tentang yang kalian jelaskan’. <br />Lalu saya bergeser ke tempat tidurku dengan berharap Allah membebaskanku dari tuduhan tersebut. Tetapi demi Allah saat itu saya tidak menyangka sama-sekali bahwa Allah akan menurunkan pernyataan terbebasku dari tuduhan tersebut di dalam wahyu, maksudnya “Al-Qur’an.” Niscaya menurutku jika urusan saya tersebut diperbincangkan di dalam Al-Qur’an terlalu remeh. <br />Sungguh yang telah kuharap hanya sekedar Allah menyatakan saya terbebas dari tuduhan tersebut melalui mimpi Rasulillah saw di dalam tidur. Demi Allah Rasulullah belum bergeser dari tempat duduknya; yang di dalam ruangan juga belum ada yang keluar. Akhirnya Allah Ta’ala menurunkan firman ‘إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ – Sesungguhnya orang-orang yang telah mendatangkan kebohongan adalah golongan dari kalian’ dan seterusnya hingga beberapa ayat. <br />Ketika Allah telah menurunkan ini firman untuk menyatakan saya bebas dari tuduhan tersebut; Abu Bakr ra yang tadinya telah memberi nafqah Misthach bin Usasah karena kerabatnya, berkata ‘demi Allah, selamanya saya takkan memberi nafqah pada Misthach sedikitpun, setelah dia mengucapkan tuduhan jelek pada ‘A’isyah’. Tak lama kemudin Allah menurunkan firman<br />‘وَلا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ – <br />Dan orang-orang yang memiliki kefadolan dan keluasan jangan berilak (maksudnya merenggangkan persaudaraan): takkan memberi pada para pemilik kerabat dan orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di Jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berbuat baik. Bukankah kalian akan senang jika Allah mengampuni pada kalian?. Dan Allah Maha pengampun Maha penyayang’. <br />Sontak Abu Bakr menjawab ‘iya demi Allah saya senang jika Allah mengampuni padaku’. Akhirnya Abu Bakr kembali memberi nafqah Misthach. Konon Rasulullah saw bertanya pada Zainab binti Jachsy mengenai diriku ‘ya Zainab menurutmu bagaimana berdasarkan penyaksianmu?’. Dia menjawab ‘ya Rasulalah, saya menjaga pendengaran dan penglihatanku, demi Allah yang kuketahui dia baik’. Dan dialah istri Nabi yang membandingiku. Allah melindungi dia karena dia wira’i.
<p>Kalau kita baca Al-Qur’an yang membahas peristiwa tersebut, betapa menakjubkan:<br />إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ (11) لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ (12) لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ (13) وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (14) إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ (15) وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ (16) يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (17) وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (18) إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (19) وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (20) – Sesungguhnya orang-orang yang telah mendatangkan kebohongan adalah golongan dari kalian sendiri. Kalian jangan menyangka bahwa itu jelek buat kalian, bahkan itu baik buat kalian. Tiap seorang dari mereka mendapat dosa sekadar yang dikerjakan. Dan orang dari mereka yang mengatur besarnya kebohongan tersebut mendapat siksa yang dahsyat. (11) Hendaklah ketika kalian mendengarnya; orang-orang iman laki-laki dan perempuan menyangka baik pada diri mereka dan berkata ‘ini kebohongan nyata’. Hendaklah mereka mendatangkan empat saksi atas kebohongan tersebut. Ketika mereka tidak mendatangkan empat saksi berarti mereka orang-orang bohong di sisi Allah. (12) Kalau tiada kefadolan dan rahmat Allah atas kalian di dunia dan akhirat niscaya siksa yang dahsyat telah menimpa kalian sebab yang telah kalian beritakan. (14) Ketika itu kalian memberitakannya dengn lisan kalian dan mengucapkan dengan mulut kalian mengeni yang kalian tak memiliki ilmunya, dan kalian menyangkanya remeh; padahal dia di sisi Allah sangat besar. (15) Hendaklah ketika kalian mendengarkannya berkata ‘kita tidak pantas membicarakan ini, Maha Suci Engkau, ini kebohongan yang sangat besar’. (16) Allah nasehat pada kalian agar kalian tak mengulangi semisal itu selamanya, jika kalian orang-orang iman. (17) Dan Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya pada kalian, sementara Allah Maha Alim Maha Hakim. (18) Sesungguhnya orang-orang yang senang jika berita jelek tersebar di kalangan orang-orang iman, mendapat siksa yang sangat pedih di dunia dan akhirat. Allah tahu; sementara kalian tidak tahu. (19) Kalau tiada:
<ul>
<li>kefadoln dan rahmat Allah atas kalian,
<li>dan sungguh Allah Maha pengasih Maha penyayang. (20) [Maksudnya ‘niscaya siksa yang dahsyat telah menimpa kalian sebab yang telah kalian beritakan’].</li>
</ul>
<p>Adapun hikmah pelajaran dalam kisah tersebut ialah, jika ada orang memberitakan fitnah atau menggunjing:
<ol>
<li>Bertasbihlah.
<li>Katakan ‘bohong’ kalau tak ada saksi atau buktinya.
<li>Meskipun telah disakiti perasannya namun jangan menghalang-halangi bersodaqah padanya.
<li>Orang menyangka memfitnah adalah dosa remeh; padahal di sisi Allah sangat besar.
<li>Setelah susah ada bahagia.
<li>Istirjaklah jika menyaksikan atau mendapat mushibah.
<li>Allah berkeinginan fitnah yang menimpa ‘A’isyah takkan terulang lagi untuk selamanya.
<li>Jika bukan karena kefadolan dan rahmat Allah untuk orang-orang iman, niscaya orang-orang di dunia yang suka memfitnah telah diadzab dengan adzab yang dahsyat. Maka memohonlah rahmat dan kefadolan pada Allah dan istighfarlah.</li>
</ol>
</blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ldiimaluku.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ldiimaluku.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ldiimaluku.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ldiimaluku.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ldiimaluku.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ldiimaluku.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ldiimaluku.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ldiimaluku.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ldiimaluku.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ldiimaluku.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ldiimaluku.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ldiimaluku.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ldiimaluku.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ldiimaluku.wordpress.com/245/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=245&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/09/09/%d8%b3%d8%a8%d8%ad%d8%a7%d9%86-%d8%a7%d9%84%d9%84%d9%87/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4349c10a23ee2b11f5aff1e0de8baff2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ldiimaluku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/30/244/</link>
		<comments>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/30/244/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 01:01:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ldiimaluku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/30/244/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=244&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ldiimaluku.files.wordpress.com/2011/08/cid_ii_1320e79e513aa618.jpg"><img style="background-image:none;border-bottom:0;border-left:0;padding-left:0;padding-right:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;padding-top:0;" title="!cid_ii_1320e79e513aa618" border="0" alt="!cid_ii_1320e79e513aa618" src="http://ldiimaluku.files.wordpress.com/2011/08/cid_ii_1320e79e513aa618_thumb.jpg?w=594&#038;h=272" width="594" height="272"></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ldiimaluku.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ldiimaluku.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ldiimaluku.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ldiimaluku.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ldiimaluku.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ldiimaluku.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ldiimaluku.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ldiimaluku.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ldiimaluku.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ldiimaluku.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ldiimaluku.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ldiimaluku.wordpress.com/244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ldiimaluku.wordpress.com/244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ldiimaluku.wordpress.com/244/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=244&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/30/244/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4349c10a23ee2b11f5aff1e0de8baff2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ldiimaluku</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ldiimaluku.files.wordpress.com/2011/08/cid_ii_1320e79e513aa618_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">!cid_ii_1320e79e513aa618</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>THE MIRACLE OF &quot;SABAR!&quot; &#8211; KISAH NYATA</title>
		<link>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/11/the-miracle-of-sabar-kisah-nyata/</link>
		<comments>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/11/the-miracle-of-sabar-kisah-nyata/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2011 08:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ldiimaluku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/11/the-miracle-of-sabar-kisah-nyata/</guid>
		<description><![CDATA[Ditengah gemuruhnya kota, ternyata Riyadh menyimpan banyak kisah. Kota ini menyimpan rahasia yang hanya diperdengarkan kepada telinga dan hati yang mendengar. Tentu saja, Hidayah adalah kehendak NYA dan Hidayah hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya. Ada sebuah energi yang luar biasa dari cerita yang kudengar beberapa hari yang lalu dari sahabat Saya mengenal banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=241&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ditengah gemuruhnya kota, ternyata Riyadh menyimpan banyak kisah. Kota ini menyimpan rahasia yang hanya diperdengarkan kepada telinga dan hati yang mendengar. Tentu saja, Hidayah adalah kehendak NYA dan Hidayah hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya.
<p>Ada sebuah energi yang luar biasa dari cerita yang kudengar beberapa hari yang lalu dari sahabat Saya mengenal banyak dari mereka, ada beberapa dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka dan kebanyakan dari Mesir dan Saudi Arabia sendiri. Ada beberapa juga dari suku Arab yang tinggal dibenua Afrika. Salah satunya adalah teman dari Negara Sudan, Afrika.
<p>Saya mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu Muslim kulit hitam yang juga kerja di Hotel ini. Beberapa bulan ini saya tidak lagi melihatnya berkerja. Biasanya saya melihatnya bekerja bersama pekerja lainnya menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh yang sampai saat ini belum bisa ramah dikulit saya.
<p>Hari itu Ammar tidak terlihat. Karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal tentang kabarnya.
<p>&#8220;Oh kamu tidak tahu?&#8221; Jawabnya balik bertanya, memakai bahasa Ingris khas India yang bercampur dengan logat urdhu yang pekat. &#8220;Iyah beberapa minggu ini dia gak terlihat di Mushola ya?&#8221; Jawab saya. Selepas itu, tanpa saya duga iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar. Dia menceritakan tentang hidup Ammar yang pedih dari awal hingga akhir, semula saya keheranan melihat matanya yang menerawang jauh. Seperti ingin memanggil kembali sosok teman sekamarnya itu. Saya mendengarkan dengan seksama. Ternyata Amar datang ke kota Riyadh ini lima tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2004 lalu. Ia datang ke Negeri ini dengan tangan kosong, dia nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di Kota ini. Saudi arabia memang memberikan free visa untuk Negara Negara Arab lainnya termasuk Sudan, jadi ia bisa bebas mencari kerja disini asal punya Pasport dan tiket.
<p>Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do&#8217;a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal di apartemen teman temannya.
<p>Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan. Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.
<p>Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat… Bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir.. Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di Kota ini. Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana Kota yang garang. Tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.
<p>Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing. Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia. Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..
<p>Amar seperti terjerat di belantara Kota ini. Pulang ke suddan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya di negeri Sudan. Itu tekadnya.
<p>Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.
<p>Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan.
<p>Tapi Ammar pun Manusia. Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah.
<p>Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan. Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski dengan tanpa
<p>uang yang ia bawa untuk mereka yang menunggunya.
<p>Saat itupun sebenarnya ia tidak memiliki uang, meski sebatas uang untuk tiket pulang. Ia memaksakan diri menceritakan keinginannya untuk pulang itu kepada teman terdekatnya. Dan salah satu teman baik amar memahaminya ia memberinya sejumlah uang untuk beli satu tiket penerbangan ke Sudan.
<p>Hari itu juga Ammar berpamitan untuk pergi meninggalkan kota ini dengan niat untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja.
<p>Ia pergi ke sebuah Agen di jalan Olaya- Riyadh, utuk menukar uangnya dengan tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, Negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.
<p>Akhirnya ia beli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya. Ia memesan dari saat itu supaya bisa lebih murah. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan.
<p>Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya. Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu sama temannya, siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan kebiasaan itu.
<p>Adzan dzuhur bergema.. Semua Toko Toko, Supermarket, Bank, dan Kantor Pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security Kota berjaga jaga di luar kantor kantor, menunggu hingga waktu Shalat berjamaah selesai.
<p>Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh. Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu.. memabasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air.
<p>Lalu ia masuk mesjid. Shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.
<p>Hanya disetiap shalat itulah dia merasakan kesejukan, Ia merasakan terlepas dari beban Dunia yang menindihnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.
<p>Shalat telah selesai. Ammar masih bingung untuk memulai langkah. Penerbangan masih seminggu lagi.
<p>Ia diam.
<p>Dilihatnya beberapa mushaf al Qur&#8217;an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengmbil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur&#8217;an hingga adzan Ashar tiba menyapanya.
<p>Selepas Maghrib ia masih disana. Beberapa hari berikutnya, Ia memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.
<p>Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya. Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota itu.
<p>Ammar mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing menyapa Kota.
<p>Adzannya memang khas. Hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat Subuh berjamaah disana.
<p>Adzan itu ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh. Hingga jadwal penerbanganpun tiba. Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya.
<p>Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.
<p>Amar sudah duduk diruang tunggu dibandara, Penerbangan sepertinya sedikit ditunda, kecemasan mulai meliputinya. Ia harus pulang kenegerinya tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ini tidak sebentar, ia sudah berusaha semaksimal mungkin.
<p>Tapi inilah kehidupan, ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta ini dengan mengeluh. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajiban kewajibannya, sebagai Hamba Allah, sebagai Imam dalam keluarga dan ayah buat anak anaknya.
<p>Diantara lamunan kecemasannya, ia dikejutkan oleh suara yang memanggil manggil namanya. Suara itu datang dari speaker dibandara tersebut, rasa kagetnya belum hilang Ammar dikejutkan lagi oleh sekelompok berbadan tegap yang menghampirinya.
<p>Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata &#8220;Prince memanggilmu&#8221;. Ammarpun semakin kaget jika ia ternyata mau dihadapkan dengan Prince. Prince adalah Putra Raja, kerajaan Saudi tidak hanya memiliki satu Prince. Prince dan Princess mereka banyak tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini. Mereka memilii Palace atau Istana masing masing.
<p>Keheranan dan ketakutan Ammar baru sirna ketika ia sampai di Mesjid tempat ia menginap seminggu terakhir itu, disana pengelola masjid itu menceritakan bahwa Prince merasa kehilangan dengan Adzan fajar yang biasa ia lantunkan.
<p>Setiap kali Ammar adzan prince selalu bangun dan merasa terpanggil.. Hingga ketika adzan itu tidak terdengar, Prince merasa kehilangan. Saat mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang kenegerinya Prince langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar yang saat itu sudah mau terbang untuk kembali ke Negerinya.
<p>Singkat cerita, Ammar sudah berhadapan dengan Prince. Prince menyambut Ammar dirumahnya, dengan beberapa pertanyaan tentang alasan kenapa ia tergesa pulang ke Sudan.
<p>Amarpun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di Kota Riyadh ini dan tidak mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya.
<p>Prince mengangguk nganguk dan bertanya: &#8220;Berapakah gajihmu dalam satu bulan?&#8221;
<p>Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan bulan tanpa gaji dinegeri ini.
<p>Prince memakluminya. Beliau bertanya lagi: &#8220;Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu dapati?&#8221;
<p>Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun kebelakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu: &#8220;Hanya SR 1.400&#8243;, jawab Ammar.
<p>Prince langsung memerintahkan sekretarisnya untuk menghitung uang. 1.400 Real itu dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Saat itu juga bendahara Prince menghitung uang dan menyerahkannya kepada Amar.
<p>Tubuh Amar bergetar melihat keajaiban dihadapannya.
<p>Belum selesai bibirnya mengucapkan Al Hamdalah, Prince baik itu menghampiri dan memeluknya seraya berkata: &#8220;Aku tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan. Saya siapkan tiketnya untuk kamu dan keluargamu kembali ke Riyadh.
<p>Jadilah Bilall dimasjidku.. dan hiduplah bersama kami di Palace ini&#8221;
<p>Ammar tidak tahan lagi menahan air matanya. Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar artinya di negeri Sudan yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikannya selama ini, kesabarannya selama lima tahun ini diakhiri dengan cara yang indah.
<p>Ammar tidak usah lagi membayangkan hantaman sinar matahari disiang hari yang mengigit kulitnya. Ammar tidak usah lagi memikirkan kiriman tiap bulan untuk anaknya yang tidak ia ketahui akan ada atau tidak.
<p>Semua berubah dalam sekejap! Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar. Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah.
<p>Nothing Imposible for Allah, Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah..
<p>Bumi inipun Milik Allah,.. Alam semesta, Hari ini dan Hari Akhir serta Akhirat berada dalam Kekuasaan Nya.
<p>Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan. Ini adalah cerita nyata yang tokohnya belum beranjak dari kota ini, saat ini Ammar hidup cukup dengan sebuah rumah di dalam Palace milik Prince. Ia dianugerahi oleh Allah di Dunia ini hidup yang baik, ia menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.
<p>Subhanallah… Seperti itulah buah dari kesabaran.
<p>&#8220;Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya. Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya&#8221;.
<p><font size="5" face="Traditional Arabic"><strong>(وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ(فصلت: 35</strong></font>
<p>&#8220;Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar&#8221;. (Al Fushilat 35)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ldiimaluku.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ldiimaluku.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ldiimaluku.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ldiimaluku.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ldiimaluku.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ldiimaluku.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ldiimaluku.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ldiimaluku.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ldiimaluku.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ldiimaluku.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ldiimaluku.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ldiimaluku.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ldiimaluku.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ldiimaluku.wordpress.com/241/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=241&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/11/the-miracle-of-sabar-kisah-nyata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4349c10a23ee2b11f5aff1e0de8baff2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ldiimaluku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Ringan Puasa (3)</title>
		<link>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/07/catatan-ringan-puasa-3/</link>
		<comments>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/07/catatan-ringan-puasa-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Aug 2011 00:49:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ldiimaluku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/07/catatan-ringan-puasa-3/</guid>
		<description><![CDATA[Kejadian – kejadian kecil dan menggelitik kadang terjadi tidak sengaja. Patut buat perkeling dan pembelajaran bagi kita – kita yang mempunyai kepekaan akan keadaan yang lebih baik dan barokah tentunya.@@@Pernah bertemu imam yang membingungkan makmumnya? Seorang teman bercerita suatu kali dia pernah sholat di belakang seorang imam&#160; yang bacaannya kedengaran aneh. Bukan karena tidak bertajwid, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=240&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kejadian – kejadian kecil dan menggelitik kadang terjadi tidak sengaja. Patut buat perkeling dan pembelajaran bagi kita – kita yang mempunyai kepekaan akan keadaan yang lebih baik dan barokah tentunya.<br />@@@<br />Pernah bertemu imam yang membingungkan makmumnya? Seorang teman bercerita suatu kali dia pernah sholat di belakang seorang imam&nbsp; yang bacaannya kedengaran aneh. Bukan karena tidak bertajwid, bukan? Bukan salah makhrojnya, bukan? Mau tahu letak membingungkannya? Ketika makmum kesulitan membaca amin. Terbayang bukan, bagaimana? Membaca amin saja kesulitan untuk mencocokkan dengan irama imamnya. Ini rendah, sedang apa tinggi nadanya? <br />@@@<br />Kalau manusia itu egois, saya setuju. Namun, bukan berarti boleh terus-menerus berlindung di balik sifat egois itu. Dalam kebaikan tentunya tidak boleh egois bukan?<br />Keluarga kami, secara kebetulan, mendapatkan giliran pertama untuk sedekah ta’jil di masjid. Saya lihat istri saya berbinar sigap menyambutnya. Hidangan terbaik yang bisa diberikan segera disiapkan. Saya pun tak ketinggalan kebagian tugas. Tak lain adalah mengantar hidangan ke masjid. Oleh karena itu, sepulang kantor saya buru – buru mengantar ta’jilannya sebelum waktu berbuka tiba. Tetapi di gerbang masjid, saya bertemu dengan seorang Ibu yang sama – sama mengantarkan hidangan ta’jil. Demi melihat kejadian itu, anak saya kaget rupanya dan ribut – banyaki &#8211; sambil berucap; ”Ayo Pak, pulang saja. Sudah ada yang nganterin tuh?”<br />”Lho, buat apa pulang? Sudah serahkan saja ke Mas mubalighnya sana,” kata saya. <br />Yang kaget ternyata bukan hanya anak saya, mas mubalighnya juga kaget. Kok yang nganterin ada dua. Sebenarnya saya juga berpikir serupa, tetapi saya segera sadar: tak ada larangan bersedekah bagi siapapun dan kapan pun. <br />Sesampai di rumah ternyata anak saya sudah laporan sama mamanya kejadian itu. Langsung saja dia telpon ke pengurusnya memastikan kebenaran jadualnya. Dan memang jadual betul, yang sedekah itu yang tidak sesuai jadual. <br />”Kita dah betul kok, Ibu itu saja yang salah.”<br />Kemudian saya jawab, ”Bukan salah&#8230;. Dalam hal ini gak ada yang salah. Siapa saja boleh sedekah, walau tidak ada di jadual. Emang ada larangan&#8230;!”<br />”Tapi kasihan kan dia entar. Kalau pas gilirannya bagaimana?”<br />”Itu urusannya dia. Yang jelas hari ini kita sudah memenuhi salah satu kewajiban kita. Dan gak usah kuatir gak kebagian pahala. Semua tergantung niatnya.”<br />Kadang kita berpikir, kalau sekarang giliran sedekah kita, maka yang lain gak boleh ikut. Padahal itu pikiran yang keliru. Jangan membatasi diri dalam keluasan ini.<br />@@@<br />Sebagai public figure memang menyenangkan. Salah satunya karena dikenal banyak orang dan orang banyak. Tapi apa jadinya jika ternyata dia tidak dikenal?<br />Seorang teman bercerita, pas acara pengajian di desa, datanglah penerobos yang kebetulan adalah pengurus kota tersebut. Di pelataran parkir, sang penerobos bertemu dengan salah seorang jamaah yang nyentrik. Oleh si jamaah tersebut sang pengurus kota ditanya, ”Bapak siapa?” <br />Agak sedikit kaget sang pengurus menjawab, ”Saya pengurus kota sini.” Langsung saja sang pengurus menoleh ke pengurus masjid seraya bilang, ”Hey Pak, suruh tobat jamaah ini, masa dengan pengurus kotanya tidak kenal.”<br />Saya tersipu mendengarnya. Tetapi apakah seperti itu teladan yang baik? Atau hanya bercanda? Wallahu a’lam.<br />SAPMB JKH.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ldiimaluku.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ldiimaluku.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ldiimaluku.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ldiimaluku.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ldiimaluku.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ldiimaluku.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ldiimaluku.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ldiimaluku.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ldiimaluku.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ldiimaluku.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ldiimaluku.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ldiimaluku.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ldiimaluku.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ldiimaluku.wordpress.com/240/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=240&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/07/catatan-ringan-puasa-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4349c10a23ee2b11f5aff1e0de8baff2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ldiimaluku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Ringan Puasa (1)</title>
		<link>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/02/catatan-ringan-puasa-1/</link>
		<comments>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/02/catatan-ringan-puasa-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2011 00:58:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ldiimaluku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/02/catatan-ringan-puasa-1/</guid>
		<description><![CDATA[http://www.facebook.com/widgets/like.php?href=https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/02/catatan-ringan-puasa-1/ Di dalam Kitaabu ash-Shoum, Imam Bukhory meriwayatkan hadist dari jalur Abu Hurairah r.a sebagai berikut &#8211; dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : Sesungguhnya Rasululloh SAW bersabda : ”Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat ( untuk menerima ) dalam hal ia meninggalkan makan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=236&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wlWriterHeaderFooter" style="float:none;margin:0;padding:4px 0;"><a href="http://www.facebook.com/widgets/like.php?href=https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/02/catatan-ringan-puasa-1/">http://www.facebook.com/widgets/like.php?href=https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/02/catatan-ringan-puasa-1/</a></div>
<p align="justify">Di dalam Kitaabu ash-Shoum, Imam Bukhory meriwayatkan hadist dari jalur Abu Hurairah r.a sebagai berikut &#8211; dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : Sesungguhnya Rasululloh SAW bersabda : ”Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat ( untuk menerima ) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya.”&nbsp; <br />Di dalam Kitaabu al-Adaab, Imam Bukhory juga merilis hadist serupa, hanya ada sedikit tambahan yaitu al-jahla. Selengkapnya arti hadist tersebut sebagai berikut. Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW ia bersabda : ”Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan serta tindakan bodoh (jahil), maka tidak ada bagi Allah hajat ( untuk menerima ) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya.”<br />Bulan puasa yang lalu, ada cerita berharga untuk pelajaran kita bersama. Sambil meninabobokkan si kecil di dalam rumah, istri saya menyimak pembicaraan anak-anak yang bermain di teras depan rumah. Maklum, karena awal puasa biasanya anak sekolah libur. Dan untuk mengisi waktu luang, pagi buta mereka udah ngumpul sambil ngrumpi ngalor – ngidul dan bermain ala kadarnya. Maklum, namanya juga bocah. Nah, dari obrolan mereka terekam dialog yang membuat kita orang yang tua-tua pengin ketawa. <br />Pada awalnya mereka berbicara perihal dirinya. Tepatnya ’nyombong’ kalau dirinya mengerjakan puasa. Tapi, sebentar kemudian ada yang tersinggung karena rebutan mainan atau tindakan yang lain sehingga tidak akur. Akhirnya keluarlah kata umpatan; ”Bego’ loh!” <br />Anak yang lebih besar mengingatkan, ”Hey, puasa – puasa nggak boleh ngomong bego.”&nbsp; <br />Anak yang lain nimpali, ”Batal loh puasanya&#8230;&#8230;” <br />Tapi si anak yang diingatkan ternyata belum ngerti apa hubungan antara puasa dengan umpatan bego. Karena biasanya omongan begitu itu sudah biasa, nggak ada yang melarang. Kenapa sekarang dipermasalahkan. Makanya anak yang merasa sudah mengerti berlagak menjelaskan. Katanya, ”Orang yang puasa, nggak boleh ngomong bego, tololll,,,,,!”<br />Istri saya tertawa cekikikan demi mendengar penjelasan itu. Ngomong bego tidak boleh, tapi malah pakai tolol segala. Setali tiga uang.&nbsp; Itulah anak – anak. Tapi anehnya, penjelasan itu mengena&nbsp; di hati mereka. Saat itu. <br />Bagi kita yang sudah dewasa tidak ada permasalahan dengan menahan lapar dan dahaga berpuasa. Terkadang yang susah adalah menahan diri dari perkataan dusta dan perbuatan dusta seperti hadist di atas. Apalagi yang kesehariannya sudah menganggap lumrah dan jamak hal-hal seperti itu. Sungguh mengkhawatirkan. Sebab ancamannya tidak lain adalah mengurangi pahala puasa kita. Sayang bukan? <br />Nah, jika belum bisa melaksanakan hadist di atas berarti puasa kita setingkat dengan puasa anak – anak dong? Padahal kita-kita ini udah dewasa? Ya, itulah garisnya. Tapi itu belum seberapa. Yang menyedihkan adalah jika Allah tidak menerima puasa kita. Karena kita benar-benar tidak bisa meninggalkannya. Oleh karena itu, mari waspadai perjalanan puasa kita. Hindari hal di atas. Ingatlah, dari Abi Hurairah ra bahwa Nabi SAW bersabda: Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan banyak orang yang beribadah pada malam hari namun tidak mendapatkan darinya kecuali hanya begadang saja&#8221;.[1]</p>
<div class="wlWriterHeaderFooter" style="margin:0;padding:0;"><div class="tweetmeme-button" id="tweetmeme-button-post-236" style='float: right; margin-left: 10px; margin-bottom: 5px; padding: 4px 0 2px 4px; background: #fff;'>
<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fldiimaluku.wordpress.com%2F2011%2F08%2F02%2Fcatatan-ringan-puasa-1%2Ftweetmeme_alias%3Dhttp%3A%2F%2Fwp.me%2FpBFIV-3O%26tweetmeme_source%3Dwordpressdotcom"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fldiimaluku.wordpress.com%2F2011%2F08%2F02%2Fcatatan-ringan-puasa-1%2F" height="61" width="51" /></a>
</div></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ldiimaluku.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ldiimaluku.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ldiimaluku.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ldiimaluku.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ldiimaluku.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ldiimaluku.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ldiimaluku.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ldiimaluku.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ldiimaluku.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ldiimaluku.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ldiimaluku.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ldiimaluku.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ldiimaluku.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ldiimaluku.wordpress.com/236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=236&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/08/02/catatan-ringan-puasa-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4349c10a23ee2b11f5aff1e0de8baff2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ldiimaluku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Esai Kehidupan : 3 T</title>
		<link>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/29/esai-kehidupan-3-t/</link>
		<comments>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/29/esai-kehidupan-3-t/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jul 2011 00:25:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ldiimaluku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/29/esai-kehidupan-3-t/</guid>
		<description><![CDATA[http://www.facebook.com/widgets/like.php?href=https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/29/esai-kehidupan-3-t/ Banyak sesuatu yang kita lakukan, tetapi kadang kita tidak sadar akan fadhilah dan kegunaannya. Semua berlindung dibalik bilik rutinitas. Atau lebih ndakik lagi berhujjah: ngilmunya begitu. Nggak kurang, nggak lebih. Nggak mau nambahi maupun ngurangi. Takut dosa. Dan alasan lain yang akhirnya menjadi awan penghalang pemahaman yang lebih dalam. Padahal tujuan kita adalah menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=234&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wlWriterHeaderFooter" style="float:none;margin:0;padding:4px 0;"><a href="http://www.facebook.com/widgets/like.php?href=https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/29/esai-kehidupan-3-t/">http://www.facebook.com/widgets/like.php?href=https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/29/esai-kehidupan-3-t/</a></div>
<p align="justify">Banyak sesuatu yang kita lakukan, tetapi kadang kita tidak sadar akan fadhilah dan kegunaannya. Semua berlindung dibalik bilik rutinitas. Atau lebih ndakik lagi berhujjah: ngilmunya begitu. Nggak kurang, nggak lebih. Nggak mau nambahi maupun ngurangi. Takut dosa. Dan alasan lain yang akhirnya menjadi awan penghalang pemahaman yang lebih dalam. Padahal tujuan kita adalah menjadi orang yang faqih. Jangan sampai kita menyesal karena merasa hal itu tidak pernah disampaikan. Seperti lelucon di bawah ini.<br />Keledai Nasrudin jatuh sakit, karenanya ia meminjam seekor kuda kepada tetangganya. Kuda itu besar dan kuat serta kencang larinya. Begitu Nasrudin menaikinya, ia langsung melesat secepat kilat, sementara Nasrudin berpegangan di atasnya, ketakutan. Nasrudin mencoba membelokkan arah kuda. Tapi sia-sia. Kuda itu lari lebih kencang lagi. <br />Beberapa teman Nasrudin yang melihatnya, mengira sedang ada sesuatu yang penting. Mereka berteriak, &#8220;Ada apa Nasrudin ? Mau ke mana engkau ? Mengapa terburu-buru?” <br />Nasrudin balas berteriak, &#8220;Saya tidak tahu! Binatang ini tidak mengatakannya kepadaku !&#8221;<br />Jadi jangan banyak berharap sesuatu itu datang dengan sendirinya, tanpa usaha dan upadaya. Sebab pada dasarnya kepahaman sendiri didapat dengan cara mencarinya. Tidak dengan berpangku tangan. Menunggu kuda berbicara.<br />Setiap habis sholat fardhu, setiap muslim biasanya membaca tasbih, tahmid dan takbir. Orang biasanya menyebut wirid. Ada yang 10 – 10, ada yang 33 – 33. Tetapi pernahkah kita berpikir, kenapa kalimat itu yang dipilih Rasulullah SAW untuk diamalkan? Kenapa tidak yang lain? Mudah-mudahan tidak ada yang langsung menghadang dengan stempel penghakiman: itu ro’yu. It’s fine. Namun seperti layaknya mencari jalannya syukur, dalam hal ini kita berharap juga bisa mengkaji lebih jauh kalimat tersebut dalam keseharian kita untuk manfaat yang lebih besar tentunya, yaitu menguak tabir jalan menuju kebahagiaan. Jalan menuju rela memaafkan.<br />Mari kita renungkan kata Subhanallaah &#8211; Maha Suci Allah. Allahlah yang tersuci, nggak punya salah, nggak punya cela, nggak lupa. Perfect. Sementara itu manusia adalah tempat kesalahan, ketercelaan dan kealpaan. Nggak perfect. Meresapi kalimat tasbih ini, seharusnya membuka hati kita untuk menjadi pemaaf. Memahami kesucian, akan melunturkan keangkuhan hati kita. Sebab kesucian itu hanya punya Allah. Kesempurnaan itu adalah milikNya. Yang Maha Sempurna adalah Allah. Sedangkan manusia itu adalah makhluknya. Jadi dia tidak akan bisa menyamaiNya. Manusia itu tidak sempurna. Jadi sebagian orang mengatakan; kesempurnaan manusia terletak pada ketidaksempurnaannya. Kalau ada manusia yang sempurna, berarti dia bukan manusia atau kita yang salah melihat. Dengan memahami konsep ini, hati kita akan selalu terbuka untuk memaafkan orang lain. Gampang memaafkan. Nggak bencian. Rela. Lilo legowo. Bahkan memampukan memaafkan sebelum dimintai maaf. Simaklah surat Ali Imron<br />ayat 191 berikut; &#8220;Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka jagalah kami dari siksa neraka.<br />Bernie Siegeldalam karya best seller-nya yang berjudul Love, Medicine and Miracles mengajukan sebuah bukti meyakinkan. Sebagaimana ia tulis secara amat percaya diri di halaman 202 bukunya, Siegel telah mengkoleksi 57 kasus keajaiban kanker. Di mana ke lima puluh tujuh orang ini sudah positif terkena kanker, dan begitu mereka menghentikan secara total dan radikal kebencian, depresinya menurun drastis, dan yang paling penting tumornya mulai menyusut. Sebagai kesimpulan, Siegel menulis : ‘when you give love, you receive it at the same time. And letting go of the past and forgiving everyone and everything sure helps you not to be afraid’. Ketika Anda memberi maaf, Anda juga menerimanya pada saat yang sama. Dan kesediaan untuk melepas masa lalu dengan cara memaafkan, secara meyakinkan membantu Anda keluar dari kekhawatiran. <br />Pernahkah kita menyadarinya? Bahwa kita dibimbing agar menjadi insan yang nyegoro – penuh maaf dengan memahami bacaan tasbih yang kita baca setiap habis sholat. Kita dituntun setiap hari. Kita mengakui bahwa Allahlah Yang Maha Suci dan makhluknya itu tidak suci. Dengan demikian kita diajar menjadi insan yang paripurna. Mengetahui mana yang hak mana yang batil, yang asli dan mana yang palsu. Inilah kunci rahasia kebahagiaan dibalik kalimat tasbih yang kita baca sehari minimal 165 kali. <br />Sudahkah kita meresapinya? Bahkan telah mengimplementasikannya dalam setiap gerak langkah hidup kita? Sebagai buah dari hikmah pemahaman yang Allah berikan kepada kita? Allohumma aatinal hikmah&#8230;..<br />Kalau kita sadar, sebenarnya kita dituntun menjadi orang yang banyak syukur. Kita dididik menjadi ahli syukur, pinter syukur. Coba kita renungkan kembali kalimat Alhamdulillah yang kita baca sehabis sholat. Berapa kali kita baca? Sebanyak 33 kali sehabis sholat. Artinya secara lisan kita dilatih mengucapkan syukur kepada Allah – dengan mengucap kalimat Alhamdulillah &#8211; segala puji bagi Allah. Nah, ini adalah pranata yang kita tunaikan setiap hari.<br />Nah, mendalami tahmid ini membukakan satu lagi pintu rahasia menggapai kebahagiaan. Yaitu mensyukuri setiap pemberian yang Allah berikan kepada kita. Mensyukuri setiap keadaan yang kita temui dalam kehidupan ini. Orang yang bahagia adalah orang yang senantiasa mengucapkan syukur Alhamdulillah. Dimulai dari ucapan kemudian ke perbuatan. Bersyukur setiap waktu. Menikmati hidup ini. Seberat apapun hari yang kita alami pasti ada nikmat yang bisa kita syukuri di dalamnya. Jangan pernah menyerah untuk menjadi orang yang banyak syukur. Jangan sampai tertutup nikmat Allah yang diberikan ke kita oleh yang lain.<br />Hidup banyak digambarkan seperti air mengalir. Dari semenjak jatuh dari langit lewat awan hujan, air berjalan mencari sungai sebagai induknya. Di sungai air terus mengalir dari hulu ke hilir. Tak pernah berhenti. Ada kalanya dia berguling ke kiri dan ke kanan. Sebelah pinggir kanan kali bernama kesenangan, sebelahnya lagi bernama kesedihan. Sebagaimana kehidupan yang sebenarnya, ada saatnya kita terhenti di pinggir kali kesenangan, ada kalanya terhenti di pinggir kali kesedihan. Apapun nama dan jenis pinggir kalinya, tidak perduli kita sedang senang atau sedih, laju kehidupan akan senantiasa berjalan. Sehingga, siapa saja yang memusatkan perhatian pada pemberhentian sementara di pinggir kali (dunia), ia pasti tidak puas. Ia tidak bahagia. Sebab, pinggiran kali hanyalah bentuk lain dari kesementaraan. Keabadian dalam bentuk kesyukuran ada dalam kenikmatan untuk mengalir dengan sang perubahan yaitu qodar Allah, hingga akhirnya berujung di laut biru akhir<br />kehidupan.<br />Sebuah cerita inspiratif berikut ini patut dijadikan acuan sebagai bentuk pemahaman kesyukuran terhadap hidup dan kehidupan serta bagaimana memainkannya. Suatu ketika seorang Ibu berniat pergi mengunjungi putranya di pulau seberang. Dipilihlah kapal laut sebagai mode transportasinya. Namun, malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih. Di tengah perjalanan datanglah cuaca buruk dan badai sehingga kapal yang ditumpangi si Ibu tersebut tenggelam. Alih – alih panik melihat situasi yang terjadi, si Ibu terlihat tenang dan penuh senyum menghadapi situasi yang terjadi. Ketika penumpang yang lain berebut menyelamatkan diri, si Ibu tetap tegar. Akhirnya si Ibu selamat setelah terombang – ambing di laut selama sepekan, dengan bergantung pada sebilah papan. Merasa penasaran dengan ketenangan si Ibu ini dalam menghadapai situasi yang genting, salah seorang regu penolong bertanya, ” Apa yang membuat ibu bisa bertahan menghadapi cuaca sangat buruk seperti<br />ini?”<br />”Begini, saya punya dua putra. Yang satu sudah meninggal dan satunya lagi tinggal di seberang. Jika dalam perjalanan saya ini akhirnya saya mati, maka saya akan bersyukur dan berbahagia sebab saya segera menyusul anak saya di surga. Sedangkan bila saya selamat sampai ke seberang, maka saya pun bersyukur dan berbahagia karena akan bertemu dengan anak saya di sana,” kata si Ibu membuka rahasianya.<br />Dari keadaan dengan pilihan yang mengancam nyawa pun, masih ada celah untuk menegakkan kebaikan dan bersyukur di dalamnya. Nah, bagaimana dengan situasi yang lain, cerita berikut boleh ditiru.<br />Suatu hari Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada Ibrahim bin Adham, &#8221;Bagaimana model kehidupan Anda?&#8221; <br />Ibrahim menjawab, &#8221;Jika kami memperoleh rezeki kami bersyukur, jika tidak maka kami bersabar.&#8221; <br />&#8221;Itu sama halnya dengan kebiasaan anjing-anjing di Khurasan,&#8221; timpal Syaqiq. <br />Ibrahim terhenyak dan kemudian bertanya, &#8221;Memangnya bagaimana model kehidupan Anda?&#8221;<br />Syaqiq menjawab, &#8221;Jika kami mendapat rezeki, maka kami dermakan, jika tidak maka kami bersyukur.&#8221; (Kisah dalam kitab Nafahat al-Uns).<br />Nah, model – model seperti inilah yang perlu dihayati dan dimaknai dalam rangka memperoleh hidup penuh kesyukuran dan kebahagiaan. Dan mulailah dengan meresapi dan menghayati setiap kalimat tahmid yang kita ucapkan setiap hari. Sebagai pembanding simaklah firman Allah dalam surat Yunus ayat 10 berikut ini;<br />Do&#8217;a mereka di dalam surga ialah: &#8220;Subhaanakallaahumma&#8221;, dan salam penghormatan mereka ialah: &#8220;Salam&#8221;. Dan penutup doa mereka ialah: &#8220;Alhamdulilaahi Rabbil &#8216;aalamin&#8221;.<br />Mungkin, sekarang bertambah luas wawasan kita dalam memaknai lebih dalam lagi dibalik tabir kefadholan tasbih dan tahmid yang mungkin sudah kita mafhum. Mereka bukan hanya sekedar pemanis sholat, buah bibir wirid, pajangan tangan ataupun pembuka dan penutup doa. Lebih dari sekedar pahala dan pahala, ada kemanfaatan yang luar biasa bersamanya, bagi yang diberi keutamaan tentunya.<br />Sungguh amat berbeda arti menyederhanakan dan mengecilkan. Namun, banyak orang yang masih menyamakan arti menyederhanakan dan mengecilkan. Padahal sebenarnya sangat jauh berbeda arti dan maknanya. Pada banyak kasus di dalam kehidupan dunia ini, kerap terjadi prahara karena orang terlalu mengecilkan masalah. Menganggap sepele hal yang kecil. Menganggap renik hal yang sepele. Lihatlah kembali kasus jebolnya Situ Gintung. Banyak yang tidak peduli ketika sudah ada tanda – tanda dinding situ rembes. Laporan warga yang peduli dianggap angin lalu. Malah dicurigai orang yang iri. Banyak yang tidak care ketika badan situ tertutup oleh rumah dan peruntukan lain. Dan baru terasa ketika akhirnya dinding situ jebol dan menelan banyak korban jiwa. Laksana bah, tsunami kedua setelah Aceh. Harta, benda dan nyawa tak terbilang hilang karenanya. Orang pun banyak yang berduka. Saling tuding, saling menyalahkan. Ujung &#8211; ujungnya sejatinya cuma satu karena mengecilkan<br />masalah. Rembes itu mah sudah biasa, udah dari dulu. Kemarin malah ada laporan bocor. Kriwikan dadi grojogan. <br />Berbeda dengan mengecilkan, menyederhanakan adalah membuat yang rumit menjadi mudah. Menyederhanakan adalah membuat yang njlimet menjadi terang dimengerti. Menyederhanakan adalah membuat yang ruwet menjadi terurai, tak kusut lagi. Membuat yang membingungkan menjadi mudah dipahami. Menyederhanakan adalah membuat sesuatu bisa berjalan walau dengan cara dan kualitas yang berbeda, akan tetapi esensinya sama sehingga tujuan berhasil. Seperti kata pepatah; tak ada rotan akarpun jadi. Nggak ada mobil, ya naik motor. Nggak ada motor ya naik sepeda. Kalau nggak ada sepeda ya jalan kaki. Kalau nggak bisa jalan ya ngesot, dst hingga sampai pada tujuan. Contoh lagi, kalau nggak bisa sholat berdiri ya sambil duduk. Kalau dengan duduk juga belum bisa, ya sambil berbaring. Dengan berbaring masih nggak mampu yang dengan isyarat. Jika dengan isyarat ternyata tidak bisa juga, maka sudah sepantasnya disholati. Orang yang menyederhanakan punya energi positif untuk<br />menyelesaikan masalah, meraih tujuan dan perhatian dengan langkah yang ditempuh, meski dengan beribu cara. Sedangkan mengecilkan mengandung energi negatif yang cenderung mengabaikan, melupakan dan meninggalkan masalah. Akibatnya, masalah itu membesar dan akhirnya tak tertangani. <br />Sebagai muslim, sebenarnya kita telah dilatih dengan rancak lagi titis, bagaimana menyederhanakan masalah. Sebagai orang iman, kita dilatih untuk tidak membesar – besarkan masalah. Coba renungkan kalimat Allahu akbar sebagai bagian terakhir dari rangkaian bacaan tasbih dan tahmid sehabis sholat. Allah Maha Besar. Kita akan merasa bahwa hanya Allahlah yang Maha Besar. Hanya urusan kepada Allahlah yang paling besar. Urusan akhirat. Selain itu adalah masalah kecil. Ingat cantolan; beli kerbau dapat talinya. Atau beli tempat tidur dapat kolongnya. Ini adalah gandengan yang tidak bisa dipungkiri. Benar adanya. Inilah proses pemahaman penyederhanaan hidup. Inilah hakiki kehidupan. Tidak mungkin seseorang beli kolong, untuk sebuah tempat tidur. <br />Masih banyak orang yang menganggap urusan dunia ini sebagai masalah yang besar. Masalah yang pol, sehingga kalau tidak berhasil rasanya seperti habis sudah riwayatnya. Banyak hal-hal yang dipusingkan setiap hari sebenarnya adalah masalah-masalah yang sederhana, kecil bahkan sepele. Masalah-masalah cepil, meminjam istilah anak saya, bahkan tidak akan pernah kita ingat lagi satu tahun dari sekarang. Dengan mempunyai pendirian bahwa semua urusan dunia itu adalah urusan kecil, yang besar adalah hanya urusan kepada Allah, tentu langkah kita menjadi ringan dan ibadah kita menjadi semakin mendalam. Walhasil kebahagiaan akan datang dan turun menyirami jiwa &#8211; raga kita, seperti turunnya embun di pagi hari. Tanpa diminta, tanpa dicari, ketika fajar menyingsing, embun beriring menyirami seisi bumi. <br />Inilah kunci ketiga kebahagiaan yaitu menyederhanakan masalah dengan memahami bahwa urusan dunia itu urusan yang kecil, sehingga tidak perlu membesar-besarkan hal-hal kecil tadi. Awas jangan terkecoh dengan mengecilkan masalah. Sebab sesungguhnya hidup itu sederhana, tetapi banyak orang yang merasa kesulitan bagaimana untuk menyederhanakan hidup. Inilah tantangan kita. Dalam surat Ghofir ayat 57 Allah berfirman: Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.<br />Semoga Allah memberi keluasan dan kemampuan kepada kita semua untuk mengetahui dan memahami firmanNya dengan paripurna. Amin.<br />SAPMB JKH</p>
<div class="wlWriterHeaderFooter" style="margin:0;padding:0;"><div class="tweetmeme-button" id="tweetmeme-button-post-234" style='float: right; margin-left: 10px; margin-bottom: 5px; padding: 4px 0 2px 4px; background: #fff;'>
<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fldiimaluku.wordpress.com%2F2011%2F07%2F29%2Fesai-kehidupan-3-t%2Ftweetmeme_alias%3Dhttp%3A%2F%2Fwp.me%2FpBFIV-3M%26tweetmeme_source%3Dwordpressdotcom"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fldiimaluku.wordpress.com%2F2011%2F07%2F29%2Fesai-kehidupan-3-t%2F" height="61" width="51" /></a>
</div></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ldiimaluku.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ldiimaluku.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ldiimaluku.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ldiimaluku.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ldiimaluku.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ldiimaluku.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ldiimaluku.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ldiimaluku.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ldiimaluku.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ldiimaluku.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ldiimaluku.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ldiimaluku.wordpress.com/234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ldiimaluku.wordpress.com/234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ldiimaluku.wordpress.com/234/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=234&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/29/esai-kehidupan-3-t/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4349c10a23ee2b11f5aff1e0de8baff2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ldiimaluku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jadwal IMSAKIYAH dan Buka Puasa RAMADHAN 1432 H &#8211; 2011 Ambon dan Sekitarnya</title>
		<link>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/22/jadwal-imsakiyah-dan-buka-puasa-ramadhan-1432-h-2011-ambon-dan-sekitarnya/</link>
		<comments>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/22/jadwal-imsakiyah-dan-buka-puasa-ramadhan-1432-h-2011-ambon-dan-sekitarnya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 02:28:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ldiimaluku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/22/jadwal-imsakiyah-dan-buka-puasa-ramadhan-1432-h-2011-ambon-dan-sekitarnya/</guid>
		<description><![CDATA[http://www.facebook.com/widgets/like.php?href=https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/22/jadwal-imsakiyah-dan-buka-puasa-ramadhan-1432-h-2011-ambon-dan-sekitarnya/ (Untuk Kota Ambon 3°42′ LS 128°14′ BT GMT +9) Tgl Imsak Shubuh Terbit Dhuhur Ashr Maghrib Isya’ 1 05:08 05:18 06:34 12:35 15:57 18:32 19:43 2 05:08 05:18 06:33 12:35 15:56 18:32 19:43 3 05:08 05:18 06:33 12:35 15:56 18:32 19:43 4 05:08 05:18 06:33 12:34 15:56 18:32 19:43 5 05:08 05:18 06:32 12:34 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=232&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wlWriterHeaderFooter" style="float:none;margin:0;padding:4px 0;"><a href="http://www.facebook.com/widgets/like.php?href=https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/22/jadwal-imsakiyah-dan-buka-puasa-ramadhan-1432-h-2011-ambon-dan-sekitarnya/">http://www.facebook.com/widgets/like.php?href=https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/22/jadwal-imsakiyah-dan-buka-puasa-ramadhan-1432-h-2011-ambon-dan-sekitarnya/</a></div>
<p>(Untuk Kota Ambon 3°42′ LS 128°14′ BT GMT +9)<br />
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<p>Tgl</p>
</td>
<td>
<p>Imsak</p>
</td>
<td>
<p>Shubuh</p>
</td>
<td>
<p>Terbit</p>
</td>
<td>
<p>Dhuhur</p>
</td>
<td>
<p>Ashr</p>
</td>
<td>
<p>Maghrib</p>
</td>
<td>
<p>Isya’</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>1</p>
</td>
<td>
<p>05:08</p>
</td>
<td>
<p>05:18</p>
</td>
<td>
<p>06:34</p>
</td>
<td>
<p>12:35</p>
</td>
<td>
<p>15:57</p>
</td>
<td>
<p>18:32</p>
</td>
<td>
<p>19:43</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>2</p>
</td>
<td>
<p>05:08</p>
</td>
<td>
<p>05:18</p>
</td>
<td>
<p>06:33</p>
</td>
<td>
<p>12:35</p>
</td>
<td>
<p>15:56</p>
</td>
<td>
<p>18:32</p>
</td>
<td>
<p>19:43</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>3</p>
</td>
<td>
<p>05:08</p>
</td>
<td>
<p>05:18</p>
</td>
<td>
<p>06:33</p>
</td>
<td>
<p>12:35</p>
</td>
<td>
<p>15:56</p>
</td>
<td>
<p>18:32</p>
</td>
<td>
<p>19:43</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>4</p>
</td>
<td>
<p>05:08</p>
</td>
<td>
<p>05:18</p>
</td>
<td>
<p>06:33</p>
</td>
<td>
<p>12:34</p>
</td>
<td>
<p>15:56</p>
</td>
<td>
<p>18:32</p>
</td>
<td>
<p>19:43</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>5</p>
</td>
<td>
<p>05:08</p>
</td>
<td>
<p>05:18</p>
</td>
<td>
<p>06:32</p>
</td>
<td>
<p>12:34</p>
</td>
<td>
<p>15:55</p>
</td>
<td>
<p>18:32</p>
</td>
<td>
<p>19:43</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>6</p>
</td>
<td>
<p>05:07</p>
</td>
<td>
<p>05:17</p>
</td>
<td>
<p>06:32</p>
</td>
<td>
<p>12:34</p>
</td>
<td>
<p>15:55</p>
</td>
<td>
<p>18:32</p>
</td>
<td>
<p>19:42</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>7</p>
</td>
<td>
<p>05:07</p>
</td>
<td>
<p>05:17</p>
</td>
<td>
<p>06:32</p>
</td>
<td>
<p>12:34</p>
</td>
<td>
<p>15:55</p>
</td>
<td>
<p>18:32</p>
</td>
<td>
<p>19:42</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>8</p>
</td>
<td>
<p>05:07</p>
</td>
<td>
<p>05:17</p>
</td>
<td>
<p>06:31</p>
</td>
<td>
<p>12:34</p>
</td>
<td>
<p>15:55</p>
</td>
<td>
<p>18:32</p>
</td>
<td>
<p>19:42</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>9</p>
</td>
<td>
<p>05:07</p>
</td>
<td>
<p>05:17</p>
</td>
<td>
<p>06:31</p>
</td>
<td>
<p>12:33</p>
</td>
<td>
<p>15:54</p>
</td>
<td>
<p>18:32</p>
</td>
<td>
<p>19:42</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>10</p>
</td>
<td>
<p>05:06</p>
</td>
<td>
<p>05:16</p>
</td>
<td>
<p>06:31</p>
</td>
<td>
<p>12:33</p>
</td>
<td>
<p>15:54</p>
</td>
<td>
<p>18:32</p>
</td>
<td>
<p>19:42</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>11</p>
</td>
<td>
<p>05:06</p>
</td>
<td>
<p>05:16</p>
</td>
<td>
<p>06:30</p>
</td>
<td>
<p>12:33</p>
</td>
<td>
<p>15:53</p>
</td>
<td>
<p>18:32</p>
</td>
<td>
<p>19:42</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>12</p>
</td>
<td>
<p>05:06</p>
</td>
<td>
<p>05:16</p>
</td>
<td>
<p>06:30</p>
</td>
<td>
<p>12:33</p>
</td>
<td>
<p>15:53</p>
</td>
<td>
<p>18:32</p>
</td>
<td>
<p>19:41</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>13</p>
</td>
<td>
<p>05:05</p>
</td>
<td>
<p>05:15</p>
</td>
<td>
<p>06:29</p>
</td>
<td>
<p>12:32</p>
</td>
<td>
<p>15:53</p>
</td>
<td>
<p>18:32</p>
</td>
<td>
<p>19:41</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>14</p>
</td>
<td>
<p>05:05</p>
</td>
<td>
<p>05:15</p>
</td>
<td>
<p>06:29</p>
</td>
<td>
<p>12:32</p>
</td>
<td>
<p>15:52</p>
</td>
<td>
<p>18:31</p>
</td>
<td>
<p>19:41</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>15</p>
</td>
<td>
<p>05:05</p>
</td>
<td>
<p>05:15</p>
</td>
<td>
<p>06:29</p>
</td>
<td>
<p>12:32</p>
</td>
<td>
<p>15:52</p>
</td>
<td>
<p>18:31</p>
</td>
<td>
<p>19:41</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>16</p>
</td>
<td>
<p>05:04</p>
</td>
<td>
<p>05:14</p>
</td>
<td>
<p>06:28</p>
</td>
<td>
<p>12:32</p>
</td>
<td>
<p>15:51</p>
</td>
<td>
<p>18:31</p>
</td>
<td>
<p>19:41</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>17</p>
</td>
<td>
<p>05:04</p>
</td>
<td>
<p>05:14</p>
</td>
<td>
<p>06:28</p>
</td>
<td>
<p>12:31</p>
</td>
<td>
<p>15:51</p>
</td>
<td>
<p>18:31</p>
</td>
<td>
<p>19:40</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>18</p>
</td>
<td>
<p>05:04</p>
</td>
<td>
<p>05:14</p>
</td>
<td>
<p>06:27</p>
</td>
<td>
<p>12:31</p>
</td>
<td>
<p>15:50</p>
</td>
<td>
<p>18:31</p>
</td>
<td>
<p>19:40</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>19</p>
</td>
<td>
<p>05:03</p>
</td>
<td>
<p>05:13</p>
</td>
<td>
<p>06:27</p>
</td>
<td>
<p>12:31</p>
</td>
<td>
<p>15:50</p>
</td>
<td>
<p>18:31</p>
</td>
<td>
<p>19:40</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>20</p>
</td>
<td>
<p>05:03</p>
</td>
<td>
<p>05:13</p>
</td>
<td>
<p>06:26</p>
</td>
<td>
<p>12:30</p>
</td>
<td>
<p>15:49</p>
</td>
<td>
<p>18:31</p>
</td>
<td>
<p>19:40</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>21</p>
</td>
<td>
<p>05:02</p>
</td>
<td>
<p>05:12</p>
</td>
<td>
<p>06:26</p>
</td>
<td>
<p>12:30</p>
</td>
<td>
<p>15:49</p>
</td>
<td>
<p>18:30</p>
</td>
<td>
<p>19:40</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>22</p>
</td>
<td>
<p>05:02</p>
</td>
<td>
<p>05:12</p>
</td>
<td>
<p>06:25</p>
</td>
<td>
<p>12:30</p>
</td>
<td>
<p>15:48</p>
</td>
<td>
<p>18:30</p>
</td>
<td>
<p>19:39</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>23</p>
</td>
<td>
<p>05:02</p>
</td>
<td>
<p>05:12</p>
</td>
<td>
<p>06:25</p>
</td>
<td>
<p>12:30</p>
</td>
<td>
<p>15:48</p>
</td>
<td>
<p>18:30</p>
</td>
<td>
<p>19:39</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>24</p>
</td>
<td>
<p>05:01</p>
</td>
<td>
<p>05:11</p>
</td>
<td>
<p>06:24</p>
</td>
<td>
<p>12:29</p>
</td>
<td>
<p>15:47</p>
</td>
<td>
<p>18:30</p>
</td>
<td>
<p>19:39</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>25</p>
</td>
<td>
<p>05:01</p>
</td>
<td>
<p>05:11</p>
</td>
<td>
<p>06:24</p>
</td>
<td>
<p>12:29</p>
</td>
<td>
<p>15:47</p>
</td>
<td>
<p>18:30</p>
</td>
<td>
<p>19:39</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>26</p>
</td>
<td>
<p>05:00</p>
</td>
<td>
<p>05:10</p>
</td>
<td>
<p>06:23</p>
</td>
<td>
<p>12:29</p>
</td>
<td>
<p>15:46</p>
</td>
<td>
<p>18:30</p>
</td>
<td>
<p>19:38</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>27</p>
</td>
<td>
<p>05:00</p>
</td>
<td>
<p>05:10</p>
</td>
<td>
<p>06:23</p>
</td>
<td>
<p>12:28</p>
</td>
<td>
<p>15:45</p>
</td>
<td>
<p>18:29</p>
</td>
<td>
<p>19:38</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>28</p>
</td>
<td>
<p>04:59</p>
</td>
<td>
<p>05:09</p>
</td>
<td>
<p>06:23</p>
</td>
<td>
<p>12:28</p>
</td>
<td>
<p>15:45</p>
</td>
<td>
<p>18:29</p>
</td>
<td>
<p>19:38</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>29</p>
</td>
<td>
<p>04:59</p>
</td>
<td>
<p>05:09</p>
</td>
<td>
<p>06:22</p>
</td>
<td>
<p>12:28</p>
</td>
<td>
<p>15:44</p>
</td>
<td>
<p>18:29</p>
</td>
<td>
<p>19:38</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p>30</p>
</td>
<td>
<p>04:58</p>
</td>
<td>
<p>05:08</p>
</td>
<td>
<p>06:21</p>
</td>
<td>
<p>12:27</p>
</td>
<td>
<p>15:43</p>
</td>
<td>
<p>18:29</p>
</td>
<td>
<p>19:38</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div class="wlWriterHeaderFooter" style="margin:0;padding:0;"><div class="tweetmeme-button" id="tweetmeme-button-post-232" style='float: right; margin-left: 10px; margin-bottom: 5px; padding: 4px 0 2px 4px; background: #fff;'>
<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fldiimaluku.wordpress.com%2F2011%2F07%2F22%2Fjadwal-imsakiyah-dan-buka-puasa-ramadhan-1432-h-2011-ambon-dan-sekitarnya%2Ftweetmeme_alias%3Dhttp%3A%2F%2Fwp.me%2FpBFIV-3K%26tweetmeme_source%3Dwordpressdotcom"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fldiimaluku.wordpress.com%2F2011%2F07%2F22%2Fjadwal-imsakiyah-dan-buka-puasa-ramadhan-1432-h-2011-ambon-dan-sekitarnya%2F" height="61" width="51" /></a>
</div></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ldiimaluku.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ldiimaluku.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ldiimaluku.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ldiimaluku.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ldiimaluku.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ldiimaluku.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ldiimaluku.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ldiimaluku.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ldiimaluku.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ldiimaluku.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ldiimaluku.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ldiimaluku.wordpress.com/232/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ldiimaluku.wordpress.com/232/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ldiimaluku.wordpress.com/232/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=232&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/22/jadwal-imsakiyah-dan-buka-puasa-ramadhan-1432-h-2011-ambon-dan-sekitarnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4349c10a23ee2b11f5aff1e0de8baff2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ldiimaluku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bangun Malam</title>
		<link>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/06/bangun-malam/</link>
		<comments>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/06/bangun-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jul 2011 23:30:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ldiimaluku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/06/bangun-malam/</guid>
		<description><![CDATA[http://www.facebook.com/widgets/like.php?href=https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/06/bangun-malam/ (oleh : Faizunal Abdillah)Mengenai bangun malam, seorang teman berbagi cerita yang cukup unik dan menarik. Kilahnya, semenjak baligh dan hidup bersama dengan bapaknya, tak ada satu malam pun yang terlewat untuk mengerjakan sholat malam. Karena sang bapak selalu on time bangun jam 2 malam seraya membangunkan orang – orang yang bersamanya tanpa terkecuali. Belum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=230&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wlWriterHeaderFooter" style="float:none;margin:0;padding:4px 0;"><a href="http://www.facebook.com/widgets/like.php?href=https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/06/bangun-malam/">http://www.facebook.com/widgets/like.php?href=https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/06/bangun-malam/</a></div>
<p align="justify">(oleh : Faizunal Abdillah)<br /><a href="http://ldiimaluku.files.wordpress.com/2011/07/image.png"><img style="background-image:none;border-bottom:0;border-left:0;padding-left:0;padding-right:0;display:inline;float:left;border-top:0;border-right:0;padding-top:0;" title="image" border="0" alt="image" align="left" src="http://ldiimaluku.files.wordpress.com/2011/07/image_thumb.png?w=244&#038;h=172" width="244" height="172"></a>Mengenai bangun malam, seorang teman berbagi cerita yang cukup unik dan menarik. Kilahnya, semenjak baligh dan hidup bersama dengan bapaknya, tak ada satu malam pun yang terlewat untuk mengerjakan sholat malam. Karena sang bapak selalu on time bangun jam 2 malam seraya membangunkan orang – orang yang bersamanya tanpa terkecuali. Belum akan berhenti ajakan itu sampai semua beranjak dari peraduannya dan berbaris rapi di tempat sholat. Penggedoran pun menjadi hal yang biasa, mau suka atau tidak. Suara gaduh di penghujung malam adalah hal yang biasa. Setelah teman tersebut berpisah dengan bapaknya, karena bekerja dan berkeluarga, ia merasa bebas. Tak ada suara hiruk di penghujung malam. Dia merasakan malam yang tenang, tanpa bangun malam. Namun ketika pulang kembali ke rumah bapaknya, seperti menjelang lebaran, drama terulang lagi. Kebencian pun menyeruak atas sikap bapaknya yang tak henti – henti mengajak bangun malam. Selama ini teman tersebut<br />mengerjakan sholat malam dengan perasaan dongkol luar biasa terhadap bapaknya. Dalam hatinya bergejolak, protes dengan sikap arogan sang bapak. Yang tak tahu waktu lah, noraklah dan sebagainya. Baru saja tidur karena kecapaian pulang dari Jakarta misalnya, sudah digedor dibangunkan. Mbok tepo seliro sedikitlah, gumamnya. <br />Waktu terus berlalu, sampai akhirnya sang bapak meninggal dunia. Di situlah baru teman tersebut merasakan pentingnya apa yang dicontohkan dan diajarkan bapaknya, walau dengan cara suka paksa. Umpatan yang dulu keluar kala mengerjakan sholat malam, sekarang berubah menjadi penyesalan. Gerutu yang menyertai setiap malam kala dibangunkan, kini menjadi guru teladan. Keterpaksaan yang dulu menghiasi setiap malam, kemudian berubah menjadi kesyukuran yang dalam. Banyak orang yang tidak mendapatkan bimbingan dan teladan dalam mengerjakan sholat malam. Sekarang di usia kepala empat, alhamdulillah &#8211; Allah paring kefahaman bisa mengikuti jejak sang bapak. Ya, cara membangunkannya yang kurang bisa diterima, semua sudah menjadi kenangan. Kini saatnya menggunakan cara yang baik sampai tujuan itu tercapai. Kadang keterpaksaan diperlukan untuk memperoleh sebuah jalan kebaikan. Karena hampir – hampir semua saudaranya tidak ada yang suka dengan sikap bapaknya dalam “cara’ membangunkan sholat malam. Dan pada akhirnya, hanya kebencian yang ada tanpa bekas sedikit pun untuk mau mendawamkan sholat malam. Mirip idiom keren the show must go on, hilang bapak, hilang pula bangun malam. <br />Ali bin Abu Thalib berkata, “Pada suatu malam Rasulullah SAW mengetuk pintu rumahku – yang juga rumah Fathimah binti Muhammad SAW – lalu beliau bertanya, ‘Apakah kalian tidak mengerjakan sholat malam?’ Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, diri kami ini bergantung kepada Allah, jika Dia menghendaki kami bangun, maka kami pun akan bangun.’ Lalu Rasulullah SAW berpaling setelah mendengar perkataan itu dariku dan tidak menoleh lagi kepadaku. Aku mendengar beliau sambil berpaling menepuk pahanya mengatakan; ‘Manusia adalah makhluk yang paling sering mengeluh lagi membuat alasan.’” (Rowahu al-Bukhary, Muslim dan an-Nasa’i). <br />Berbeda dengan cerita dari pondok ke pondok jaman Abah tempo dulu. Ketika tiba saat 1/3 malam yang akhir, dijamin pondok akan bergema dengan suara tetabuhan dari mulut para santri untuk mengiringi Abah menari jaran kepang dengan sapu lidi di selangkangan, mengelilingi areal pondok. Gunanya tak lain untuk mengajak dan membangunkan para santri untuk sholat malam. Karena saking gemuruhnya, saking ramainya, semua santri terbangun. Tidak marah tetapi malah terhibur. Kantuk hilang, pikiran padang. Sadar ada hal penting yang tidak boleh dilewatkan; pertunjukan jaran kepang dan sholat malam. Akhirnya tanpa merasa menyalahkan diri dan orang lain semua orang bisa mengerjakan sholat malam. Hasilnya, banyak santri, yang kemudian menjadi mubaligh, getol mengerjakan sholat malam, walau jauh dari sarangnya. Mandiri, walau tidak pakai jaran kepang lagi. Kerja dan teladan yang luar biasa.<br />Qubaishah menuturkan bahwa Nabi SAW apabila sepertiga malam telah berlalu, beliau berdiri dan berseru; “Wahai manusia, ingatlah kepada Allah. Kiamat segera datang! Barangsiapa yang merasa takut maka berjalanlah di malam hari. Dan barang siapa yang berjalan di malam hari, maka ia akan sampai ke kedudukan yang tertinggi. Ketahuilah, sesungguhnya kekayaan Allah sangatlah berharga. Ketahuilah, sesungguhnya kekayaan Allah adalah surga. Datanglah guncangan yang dahsyat, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua, lalu datanglah maut besertanya.” (Rowahu at-Tirmidzi – hasan shohih, Ahmad dan al-Hakim).<br />Di belahan bumi yang lain, ada sekumpulan orang iman yang hidup berkelompok, tinggal bersama dalam satu komplek, beribadah dengan tertib dan mengerjakan syariat – syariat agama lainnya dengan penuh penghayatan. Namun, ketika ditanya tentang kehidupan malamnya, salah seorang nyeletuk; ‘Emang kalau rajin bangun malam bisa cepat kaya ya?’ Teman sebelahnya menimpali, “Kami memang tidak pernah mengerjakannya, tetapi kehidupan kami baik – baik saja. Tambah hari rasanya bertambah baik saja, aman fi amanillah dan Allah paring barokah.” Yang agak sepuh bertutur, “Dulu kami pernah merasakan manisnya bangun malam, tetapi seiring berjalannya waktu seolah kami disihir dengan kesibukan dan tenggelam dalam buaian kemenangan – kemenangan seperti yang kita alami saat ini, sehingga melupakan ibadah yang mulia ini.” <br />Saya jadi diam seribu bahasa. Mrinding. Semakin miris di mata Allah dan para pelaku sholat malam. Saya coba beranikan diri melihat sekeliling. Di sana banyak mata saling berpandangan. Kemudian banyak mata yang tertunduk layu. Entah apa yang mereka cari. Entah apa yang mereka pikirkan. Entah apa yang mereka dapatkan. Atau mereka sudah mendapatkan jawaban? Semoga dalam kebisuan suasana itu mereka menemukan jawaban dan jalan untuk menegakkan sholat malam. Karena, hanya dengan telah mengerjakan kehidupan malam dengan sholat malamlah, mereka akan menemukan jawaban dari semua pertanyaan dan pernyataan mereka. Tanpa laku seperti itu, pertanyaan itu tetaplah pertanyaan terbuka tanpa jawaban, walau bergelimang kemenangan dan kemegahan. Wallahu al-musta’aan. <br />Ummu Salamah meriwayatkan bahwa pada suatu malam Nabi SAW bangun dan berkata, “Subhanallah. Fitnah apa yang terjadi pada malam hari? Dan harta karun apa yang turun pada malam hari? Barangsiapa yang membangunkan keluarganya (niscaya ia mendapatkan kebaikan tersebut). Betapa banyak orang yang berpakaian di dunia, padahal ia telanjang di akhirat.” (Rowahu al-Bukhary, Ahmad dan at-Tirmidzi)<br />SAPMB Mohon maaf atas kekurangan. JKH</p>
<div class="wlWriterHeaderFooter" style="margin:0;padding:0;"><div class="tweetmeme-button" id="tweetmeme-button-post-230" style='float: right; margin-left: 10px; margin-bottom: 5px; padding: 4px 0 2px 4px; background: #fff;'>
<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fldiimaluku.wordpress.com%2F2011%2F07%2F06%2Fbangun-malam%2Ftweetmeme_alias%3Dhttp%3A%2F%2Fwp.me%2FpBFIV-3I%26tweetmeme_source%3Dwordpressdotcom"><img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fldiimaluku.wordpress.com%2F2011%2F07%2F06%2Fbangun-malam%2F" height="61" width="51" /></a>
</div></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ldiimaluku.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ldiimaluku.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ldiimaluku.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ldiimaluku.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ldiimaluku.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ldiimaluku.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ldiimaluku.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ldiimaluku.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ldiimaluku.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ldiimaluku.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ldiimaluku.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ldiimaluku.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ldiimaluku.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ldiimaluku.wordpress.com/230/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=230&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/07/06/bangun-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4349c10a23ee2b11f5aff1e0de8baff2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ldiimaluku</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ldiimaluku.files.wordpress.com/2011/07/image_thumb.png" medium="image">
			<media:title type="html">image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Klub Taat Suami (KTS)</title>
		<link>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/06/10/klub-taat-suami-kts/</link>
		<comments>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/06/10/klub-taat-suami-kts/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 00:53:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ldiimaluku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://ldiimaluku.wordpress.com/2011/06/10/klub-taat-suami-kts/</guid>
		<description><![CDATA[oleh : Faizunal Abdillah Beberapa hari ini saya kebanjiran email KTS ini. Menelaah dinamikanya sungguh nikmat sekali. Semisal membaca judul beritanya, Ajari Istri Jadi “PSK”, Pencetus Klub Istri Taat Suami yang Siap Beraksi bak Pelacur di Ranjang, Lawan Pelacuran, Muncul Klub Istri Taat Suami, dsb. membuat penasaran. Itu baru judulnya. Melihat penuturan nara sumbernya juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=226&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh : Faizunal Abdillah</p>
<p>Beberapa hari ini saya kebanjiran email KTS ini. Menelaah dinamikanya sungguh nikmat sekali. Semisal membaca judul beritanya, Ajari Istri Jadi “PSK”, Pencetus Klub Istri Taat Suami yang Siap Beraksi bak Pelacur di Ranjang, Lawan Pelacuran, Muncul Klub Istri Taat Suami, dsb. membuat penasaran. Itu baru judulnya. Melihat penuturan nara sumbernya juga mengasyikkan. <br />&#8220;Istri tidak khianat, selalu setia tapi sangat tidak kreatif untuk memuaskan hati suami. Suami pulang bukan disambut dengan senyuman manis, menggoda, seksi, dan bau wangi yang membangkit birahi, tapi dengan tahi mata dan air liur basi. Inilah kenyataan di tengah masyarakat,&#8221; kata Dr Gina Puspita, ketua panitia pembentukan klub ini lewat rilis kepada detikcom, Minggu (5/6/2011). <br />&#8220;Berbagai cara telah digunakan dan diperjuangkan seperti perjuangan Hak Asasi Manusia (HAM), gerakan woman&#8217;s Lib, penerapan undang-undang dan lain-lain. Namun nampaknya sia-sia saja. Pelacuran tetap tinggi bahkan menjadi satu jenis perdagangan, baik itu pelacuran terang-terangan atau kegiatan yang mendorong ke arah itu seperti klub malam, klub striptease dan sebagainya,&#8221; paparnya. <br />Apa saja kreatifitas yang dilakukan oleh klub taat suami ini? Menurut Gina, hal itu bisa berawal dari ketaatan hingga peningkatan hiburan terhadap suami. <br />&#8220;Suami yang gembira, ceria, bahagia karena sudah &#8216;kenyang&#8217; dengan taat, khidmat dan hiburan dari isterinya, maka dia tidak akan ganas pada isterinya, tak berlakulah penganiayaan wanita. Dia tidak akan &#8216;cari makan&#8217; di luar rumah, maka tak berlakulah pelacuran. Dia menjadi lelaki yang bertanggungjwab dalam semua urusan,&#8221; harapnya. <br />Suami dan istri perlu berlomba-lomba untuk taat. Suami yang taat menjadi imam bagi istri. Dengan suami yang taat, istri perlu taat pada suami. Istri boleh saja aktif dalam berbagai kegiatan dan pekerjaan di ranah publik, berbuat hal berguna untuk masyarakat. Namun, jangan sampai tugas utama sebagai istri terabaikan. Inilah beberapa gagasan yang mendasari Dr Gina Puspita Phd mendirikan Klub Taat Suami (KTS) di Indonesia. <br />&#8220;Islam mengajarkan suami yang dituntut bertanggung jawab, dan istri untuk taat. Dalam keadaan keduanya taat pada ajaran Islam, suami dan istri bisa saling mencintai tanpa dipaksakan. Konsep ketaatan istri terkait dengan ketaatan suami terhadap Allah, dan istri sebagai makmum. Kunci ketaatan istri di antaranya suami taat kepada Allah, suami yang tidak melanggar aturan Allah. Dengan begitu, rumah tangga akan dirahmati. Ini bukan sekadar klub, melainkan klub yang dibentuk karena perjalanan panjang sebuah perjuangan untuk mendidik orang mengenai Islam yang lebih lengkap,&#8221; jelas Gina, yang sejak dua tahun terakhir menjabat sebagai direktur bagian perempuan di organisasi Global Ikhwan. <br />Gina menyebutkan, KTS digagas pertama kali di Malaysia oleh Hatijah Aam, istri kedua pendiri Global Ikhwan, Abuya Syeikh Imam Ashaari Attamimi. Gina meluruskan, klub yang dibuatnya bernama Klub Taat Suami bukan Ikatan Istri Taat Suami atau Klub Istri Taat Suami. Ia juga mengklarifikasi, peresmian KTS Indonesia akan digelar di Jakarta, 18 Juni 2011. KTS ke depan akan menjadi klub yang memberikan konseling pernikahan, termasuk pendidikan seks kepada kaum perempuan. KTS sendiri tak menetap, konsultasi bisa dilakukan di Jakarta atau Bogor. <br />&#8220;Belum juga diresmikan banyak perempuan yang berkonsultasi, kebanyakan mengenai masalah rumah tangga, dan kebanyakan adalah anggota Global Ikhwan. Di klub ini istri juga mendapatkan pendidikan seks menurut Islam, apa yang boleh dan tidak. Namun, tak hanya itu, istri juga bisa belajar taat menurut Islam itu bagaimana,&#8221; jelas perempuan kelahiran Bogor, 8 September 1963, itu. <br />Menurut Gina, banyak orang yang tidak mengetahui konsep taat menurut Islam. Taat dipahami sebagai sesuatu yang menakutkan dan merendahkan perempuan. Edukasi mengenai ketaatan inilah yang ingin disampaikan Gina melalui KTS. Diakuinya, KTS dibentuk melalui perjalanan panjang dan bukan hasil pemikiran atau kegagagalan pribadi.&nbsp; <br />Lahirnya KTS juga dinilai Gina bisa menjadi wadah bagi perempuan untuk memahami lebih mendalam mengenai ketaatan. &#8220;Sudah terlalu banyak perempuan yang tidak memahami ketaatan,&#8221; tutur Gina, yang bergabung di Global Ikhwan sejak 2004 silam. <br />Dalam pandangan Gina, ketaatan penting dihadirkan dalam rumah tangga. Rumah tangga yang kokoh akan menguatkan sebuah keluarga. Dan, keluarga merupakan elemen penting di masyarakat yang menguatkan suatu negara bahkan dunia. &#8220;Agar rumah tangga kokoh, pelayanan kepada suami harus ditingkatkan. Selain juga pembinaan terhadap laki-laki agar bertanggung jawab dan taat kepada Allah,&#8221; katanya. <br />Setelah membaca berita – berita itu saya hanya berharap satu, semoga hal itu bisa terwujud. Terus terang saya mendukung kegiatan semacam ini. Dilihat dari sisi kreatifitas KTS adalah terobosan baru dalam menguatkan dan mengamalkan dalil istri yang baik. Tantangan dan hambatan sudah pasti ada seiring perkembangan jaman. Namun ada beberapa hokum – hokum yang harus diwaspadai dalam hal ini. Pertama adalah hukum perceraian. Artinya jangan sampai muncul niat dengan KTS ini meniadakan perceraian. Beberapa sumber menyebutkan bahwa salah satu dasar pembentukan KTS ini adalah banyaknya perceraian yang terjadi di Malaysia. Demikian juga dengan angka perceraian di Indonesia. Dalam decade ini jumlahnya dua kali lipat dari decade sebelumnya. Ini salah satu yang membuat miris hancurnya rumah tangga. Dan ditengarai masalahnya ada di perempuan yang tidak taat. <br />Kedua adalah masalah hati, dasarnya di surat al-Anfal ayat 63; dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. Dalil ini berlaku umum walau secara khusus bisa diterapkan dalam KTS ini. Intinya bagaimana mengolah hati bisa benar – benar taat dan tunduk dengan hokum Allah Rasul dengan pengamalan yang sebenar-benarnya. Mencermati sepak terjang dari para nara sumber KTS ini, saya masih ragu – ragu apakah hal ini bermuara ke ajaran atau bermuara ke hati. Kalau bermuara ke ajaran benchmark-nya adalah diri mereka. Kalau saya bisa kenapa orang lain tidak. Jika bermuara ke hati, tak ada benchmark kecuali kondisi dan situasi masing-masing untuk menjalankannya. Mari kita simak sedikit riwayat hidup Dr Gina ini. <br />Dr. Ing. Gina Puspita adalah isteri Dr. Ing. Abdurrahman Risdam Effendi. Keduanya adalah pakar pesawat yang diminta pulang secara khusus oleh B.J. Habibie (ketika jadi Presiden RI, red). Sekarang sudah hampir 15 tahun berkhidmat ke jemaah Rufaqa Internasional. <br />Dr. Ing Gina Puspita mengakui, hidup mengamalkan syariat Islam seperti berpoligami, ternyata sungguh nikmat. &#8220;Otak saya selama ini tersihir oleh tipu daya Yahudi dan musuh-musuh Allah sehingga menentang ajaran Allah yang bernama poligami. Ternyata Allah sebagai Maha Pencipta Alam Semesta beserta isinya, termasuk manusia ini, memberikan ajaran hidup berpoligami dengan mengandung banyak nilai positif misalnya sebagai pendidikan kepemimpinan. Saya pun dengan senang hati membantu suami untuk hidup berpoligami, dengan memperoleh bimbingan Abuya Ashaari,&#8221; ujar Gina Puspita. <br />Dr. Ing. Abdurrahman Risdam Effendi&nbsp; adalah Wakil Presiden Grup Rufaqa itu punya isteri empat, dan memperoleh empat anak. Ia menikahi Dr. Gina Puspita, teman kuliah di ITB, sebagai istri pertama. Mereka dikarunia tiga anak. Tahun 1995, ia kawin dengan Basyiroh Cut Mutia yang memberinya seorang anak. Enam tahun berselang, ia kawin lagi dengan Siti Salwa asal Malaysia. Tahun lalu, ia kawin dengan Fatimah. <br />Ketiga istri mudanya ini merupakan pilihan istri pertama. Mereka rukun dan bahagia. Kebetulan mereka bekerja di kantor yang sama. Malah mereka menetap serumah, di Taman Rempoa Indah, Ciputat, Tangerang. &#8221;Kalau suami sedang dengan istri yang lain, kami bertiga ngobrol-ngobrol di satu kamar,&#8221; tutur Gina. Bila berada di luar kota, mereka bertukar pesan lewat SMS. Pokoknya, akrab. &#8221;Poligami yang didasarkan pada Allah SWT tidak akan menimbulkan masalah,&#8221; Gina menambahkan. <br />Ketiga dan terakhir adalah ingatlah bahwa ini (poligami) hanya perkara sunnah. Dalam Islam, poligami haya sekedar satu dari sekian ribu syariat dalam agama kita.. Jadi dia bukan perkara yang wajib. Tapi kok yang biasa-biasa menjadi masalah yang besar bahkan Negara ikut mencampurinya. Padahal Shalat yang berkali-kali Allah katakan sebagai “tiang agama” pun, Negara tak pernah peduli apakah manusia melakukannya atau tidak? Jadi dalam hal ini mari tegakkan kewajiaban dulu sebaik mungkin sebelum mengejar amalan suunnahnya. Tahukan maksud saya ??? Semoga. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ldiimaluku.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ldiimaluku.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ldiimaluku.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ldiimaluku.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ldiimaluku.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ldiimaluku.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ldiimaluku.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ldiimaluku.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ldiimaluku.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ldiimaluku.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ldiimaluku.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ldiimaluku.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ldiimaluku.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ldiimaluku.wordpress.com/226/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ldiimaluku.wordpress.com&amp;blog=8978525&amp;post=226&amp;subd=ldiimaluku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ldiimaluku.wordpress.com/2011/06/10/klub-taat-suami-kts/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4349c10a23ee2b11f5aff1e0de8baff2?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ldiimaluku</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
