Kontribusi Warga LDII Maluku dalam mengisi Pembangunan

Catatan Ringan Puasa (3)

Kejadian – kejadian kecil dan menggelitik kadang terjadi tidak sengaja. Patut buat perkeling dan pembelajaran bagi kita – kita yang mempunyai kepekaan akan keadaan yang lebih baik dan barokah tentunya.
@@@
Pernah bertemu imam yang membingungkan makmumnya? Seorang teman bercerita suatu kali dia pernah sholat di belakang seorang imam  yang bacaannya kedengaran aneh. Bukan karena tidak bertajwid, bukan? Bukan salah makhrojnya, bukan? Mau tahu letak membingungkannya? Ketika makmum kesulitan membaca amin. Terbayang bukan, bagaimana? Membaca amin saja kesulitan untuk mencocokkan dengan irama imamnya. Ini rendah, sedang apa tinggi nadanya?
@@@
Kalau manusia itu egois, saya setuju. Namun, bukan berarti boleh terus-menerus berlindung di balik sifat egois itu. Dalam kebaikan tentunya tidak boleh egois bukan?
Keluarga kami, secara kebetulan, mendapatkan giliran pertama untuk sedekah ta’jil di masjid. Saya lihat istri saya berbinar sigap menyambutnya. Hidangan terbaik yang bisa diberikan segera disiapkan. Saya pun tak ketinggalan kebagian tugas. Tak lain adalah mengantar hidangan ke masjid. Oleh karena itu, sepulang kantor saya buru – buru mengantar ta’jilannya sebelum waktu berbuka tiba. Tetapi di gerbang masjid, saya bertemu dengan seorang Ibu yang sama – sama mengantarkan hidangan ta’jil. Demi melihat kejadian itu, anak saya kaget rupanya dan ribut – banyaki – sambil berucap; ”Ayo Pak, pulang saja. Sudah ada yang nganterin tuh?”
”Lho, buat apa pulang? Sudah serahkan saja ke Mas mubalighnya sana,” kata saya.
Yang kaget ternyata bukan hanya anak saya, mas mubalighnya juga kaget. Kok yang nganterin ada dua. Sebenarnya saya juga berpikir serupa, tetapi saya segera sadar: tak ada larangan bersedekah bagi siapapun dan kapan pun.
Sesampai di rumah ternyata anak saya sudah laporan sama mamanya kejadian itu. Langsung saja dia telpon ke pengurusnya memastikan kebenaran jadualnya. Dan memang jadual betul, yang sedekah itu yang tidak sesuai jadual.
”Kita dah betul kok, Ibu itu saja yang salah.”
Kemudian saya jawab, ”Bukan salah…. Dalam hal ini gak ada yang salah. Siapa saja boleh sedekah, walau tidak ada di jadual. Emang ada larangan…!”
”Tapi kasihan kan dia entar. Kalau pas gilirannya bagaimana?”
”Itu urusannya dia. Yang jelas hari ini kita sudah memenuhi salah satu kewajiban kita. Dan gak usah kuatir gak kebagian pahala. Semua tergantung niatnya.”
Kadang kita berpikir, kalau sekarang giliran sedekah kita, maka yang lain gak boleh ikut. Padahal itu pikiran yang keliru. Jangan membatasi diri dalam keluasan ini.
@@@
Sebagai public figure memang menyenangkan. Salah satunya karena dikenal banyak orang dan orang banyak. Tapi apa jadinya jika ternyata dia tidak dikenal?
Seorang teman bercerita, pas acara pengajian di desa, datanglah penerobos yang kebetulan adalah pengurus kota tersebut. Di pelataran parkir, sang penerobos bertemu dengan salah seorang jamaah yang nyentrik. Oleh si jamaah tersebut sang pengurus kota ditanya, ”Bapak siapa?”
Agak sedikit kaget sang pengurus menjawab, ”Saya pengurus kota sini.” Langsung saja sang pengurus menoleh ke pengurus masjid seraya bilang, ”Hey Pak, suruh tobat jamaah ini, masa dengan pengurus kotanya tidak kenal.”
Saya tersipu mendengarnya. Tetapi apakah seperti itu teladan yang baik? Atau hanya bercanda? Wallahu a’lam.
SAPMB JKH.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.